Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

Kau Hebat Dulu, Tapi Tidak Sekarang!

Seorang kawan dulu sewaktu usia sekolah adalah termasuk pelajar yang luar biasa. 
Hampir tidak ada nilai di ulangan, hasil test, maupun ijazah akhir yang di bawah 7. Super dupper!

Dia pun juga terhitung sebagai seorang yang punya mindset yang kuat, juga pemahaman religious yang memukau (sewaktu itu, diantara sesama teman seumuranya, tidak tahu sekarang hehehehe).
Kenapa saya katakan memukau, karena dengan guru yang sama, lingkungan yang sama, materi pelajaran yang sama pula, namun dia punya sisi pemahamanan yang yang (dulu) kami sesama teman sepermainannya sebut jenius layaknya seorang dosen ilmu usulludin di universitas islam negeri.

Apapun pertanyaan yang guru maupun teman sesama murid ajukan, dia selalu memiliki jawaban penjelasan yang unik dan memuaskan (sekali lagi itu duluuuu ...:))) ). 
Contoh dalam prestasi religious yang kami semua bisa lihat waktu itu, dia bisa khatam 30 juzz Al Quran dalam waktu yang cepat. Di saat anak-anak yang lain baru tertatih-tatih masuk juzz ke 25 dia sudah kelar sendiri.

Pembawaannya juga kalem dan terkesan berwibawa. Tidak banyak omong, tapi sekali omong terdengar huebatt ... Mungkin kalau sekarang di bisa di sebut COOL man! :-)))
Tak heran jika banyak dulu kawan-kawannya termasuk saya memprediksi dia kan menjadi orang yang SUKSES!
Baik sukses dalam lingkup umum kehidupanya termasuk segi finansialnya.

Seiring waktu berjalan, masa remaja menjelang.
Pada tahun-tahun 90 an. Era ngetopnya Guns N Roses, Skid Row atau Max & Igor Cavalera dengan Sepultura nya, di ikuti tren pil koplo BK, Nitazepam yang longgar dan merajalela peredaranya pada saat itu dia (teman saya yang cemerlang itu) ikut terbawa arus jadi penelan pil obat anjing itu.
Tak tanggung-tanggung dia malah sempat menjadi pemakai yang ganas dan pengedar kecil-kecilan.

Tentang ikut-ikutan tren teler dengan pil koplo, saya sendiri juga dulu pernah mengalaminya. Tapi karena orang tua saya ketat dalam memberikan uang jajan saya jadi sering tidak punya uang untuk membelinya. 
Sehingga saya kurang banyak pengalaman menjadi penelan pil psikotropika itu.
Disamping karena saya juga bermental krupuk dan payah, saya pun tidak punya keberaian untuk wiraswasta jadi pengedar dan bisa numpang dapat bonus teler gratisan dari komisi hasil jualan pil koplax itu hehehehe....

Tuhan masih sayang sama teman saya itu. Walaupun melewati masa amburadul menjadi penggemar pil Nipam, dia masih saja dan tetap menunjukan prestasi oke selama menjalani masa sekolah menengah di sekolahan yang bonafid pula.

Dia pun punya cita-cita tinggi. Menjadi accountant handal. Sempat katanya dia mencoba masuk STAN (sebuah akademi akuntansi ikatan dinas yang jadi primadona pada masa orba dulu), tapi kabarnya gagal.

Sendiri tidak tahu persis lagi tentang dia dan detail kehidupanya selanjutanya. Disamping saya sejak sekolah SMA (sekarang SMU) ada diluar daerah, juga selepasnya saya menuju Jogja untuk meneruskan studi saya.
Dia sendiripun menghabiskan waktu selepas SMEA nya di kota Jakarta dengan bekerja sebagai self employed. 

Waktu berlalu, tahun berganti ... hingga kami sekarang hidup di umuran 30 an tahun.
Khususnya saya dan teman saya tadi sudah sama-sama menikah dan berkeluarga. Punya anak juga dengan umuran yang kebetulan hampir sama pula.

Saya yang dari dulu puya potensi biasa saja, sekarangpun saya menjalani kehidupan dan prestasi yang biasa. Namun saya masih sangat bersyukur, terlepas kesusahan atau cobaan yang saya pribadi lalui saya masih di berikan oleh yang maha kuasa kemampuan untuk survived, menghidupi keluarga kecil saya dengan standard yang layak (kadangpun ketika rejeki berlebih bisa diatas kategori layak, jika dibandingkan dengan kemampuan orang-orang yang hidup disekeliling saya - bukan sombong loh?!).

Teman saya saya tadi, memang karena sudah sejak lama mengeyam uang hasil keringatnya sendiri dengan bekerja dia tentunya dari dulu sudah independent alias bisa mandiri (makan dan mandi sendiri wkwkwk .... bercanda saja ding).
Apalagi sekarang sudah berkeluarga... barang tentu dia sudah bisa lebih dari mandiri.

Hanya saja, akhir-akhir ini, mungkin 2 - 3 tahunan belakangan ini (tidak ada maksud menghina) dia sepertinya talah berubah dan berangsur pudar kehebatanya.
Dulu yang saya dan kebanyakan kawan kenal akan dia sebagai seorang yang hebat dalam prestasi sekolah dan religiousnya sepertinya dia mulai pelan-pelan seakan downgrade saja.

Dari dia dalam kehidupan RT nya (setahu dan sepengamatan saya) menjadi suami yang kalah dominasi dengan istrinya sampai pada level gaya bicaranya yang menonjolkan keluh kesah dan komplain atas apa yang di jalani dan rasakan.
Hal yang paling kentara dan merefleksikan kegundahan hatinya adalah dia sudah pada level kehilangan kebanggaan akan profesi yang bertahun-tahun hingga sekarang dia jalani dan punyai.
Kelihatan sekali dia seakan tidak puas dan ingin berubah haluan (dalam hal pekerjaan).
Woh..? Kenapa bisa begitu rupa?!
Dan juga pandangan dia akan prestasi riil dalam kapasitasnya sebagai orang yang matang, dewasa dan berperan sebagai kepala rumah tangga, dia seolah-olah berangsur-angsur kacau.

Sayang, sangat di sayangkan, dia yang dulu banyak di gadang menjadi pribadi yang sukses dan banyak pula teman yang ingin meniru dia dalam hal kehebatanya, tapi sekarang ... malah jauh dari gambaran itu.

Dulu dia di kenal sebagai orang yang punya pandangan, prinsip yang kuat dan anti dengan yang namanya mental ikut-ikutan dan copy paste, tapi belakangan dia seakan berbalik 380 derajat.

Kontras dan sangat ironi!
Dulu dia yang begitu kokoh dan liat seakan tidak akan bisa tergoncang oleh angin topan badai sekalipun, sekarang gampang terpengaruh dan mudah silau dengan sinar lingkungan materialistis yang sangat marak pada jaman sekarang.
Mudah merasa kabur pandangannya dan galau jika melihat hal yang menjadi warna kehidupan kekinian yang dicapai orang lain.
Ada apakah yang sebenarnya terjadi dengan dia?!.

Hal lain yang juga menonjol dari kerisauan dia akan kehidupan adalah : saking selalu hobi melihat ke luar dirinya (lingkungan, orang-orang di lingkaran kehidupannya) yang hebat, dia sampai lupa akan apa-apa yang pernah ataupun sudah capai ataupun sudah punyai.
Penghargaan akan diri memudar. Kebanggan akan siapa dia menipis. Yang ada sebagian besar dalam dirinya (sejauh saya bisa amati : bisa benar bisa juga salah) adalah manipulasi pandangan akan siapa diri dia yang sebenarnya.

Saya, dengan kapasitas sebagai orang lain yang ada di luar garis kehidupannya hanya sebatas bisa memandang mondar-mandirnya, bolak balik, jungkir balik kehidupannya dengan pasif saja.
Dengan bermain asumsi dan hanya mengomentari dari belakang tanpa dia perlu tahu. Karena jika dia tahu, saya sendiri yang akan banyak menuai dampak jelek.
Mengingat dia (DULU) lebih hebat dari pada saya. Bukan apa-apa saya, apalagi ocehan saya yang hanya seorang super biasa saja ...
Saya yakin dia sendiri yang bersangkutan pasti punya jawaban dan solusi atas kemelut dalam hidupnya yang sekarang, hanya dia belum temukan saja.

Mulut saya hanya bisa berujar semoga dia bisa mengembalikan dan mambawa sisi kehebatan dan kecemerlangan dia di masa lalu ke masa sekarang.
Dan saya rasa tidaklah perlu saya mengamini, karena doa orang biasa seperti saya pasti kalah mujarab dengan doa orang hebat :-)))

Senin, 05 Agustus 2013

Mate, You Always Be Important For Me

Seorang rekan datang kepada saya minggu lalu.
Dia mengeluh kenapa semua teman-temannya buruk! dan tidak menganggap dia penting.
Tidak mau mendengarkan dia, menyepelekan dia, dan mengacuhkan dia. Padahal dia selalu berusaha baik pada teman-temannya.
Saya bertanya pada dia, dalam hal apa mereka teman-temanmu tidak menganggap penting dirimu?.
Pekerjaan, pergaulan atau dalam hal yang tidak penting semacam hobi?. Maksudnya walaupun hobi sama tapi ada poin-poin yang tidak sinkron sehingga kamu di kucilkan??.

Dia melanjutkan dengan membahas beberapa contoh perlakuan dari 2 -3 teman-teman yang mengucilkan dia. Si ini begitu, si itu begini, tapi begini begitu ... de el el ...
Saya dengarkan saja dia ngomong ... alih alih dia bisa tumpahkan unek-unek dari dalam pikiran dan hatinya cieeee......

Pas dia pause, saya mulai balas dengan ceramah berikut :

Tenang bro! Tidak semua teman kamu  cuek sama kamu. Saya juga teman kamu dan saya jarang cuek sama kamu (walaupun kadang sedikit cuex kalau saya sedang ribet dengan pekerjaan dan urusan saya sendiri xi xi xi xi ....).
Kamu masih punya teman. Setidaknya ada saya yang masih anggap kamu penting.
Contohnya, sekarang saya juga mau medengarkan kamu dan merespon apapun yang kamu bicarakan.
Bersedia meluangkan waktu kapan saja kalau kamu ajak ngobrol. Baik hal penting atau tidak, saya selalu ready.
Juga saya selalu siap bantu kamu kalau misal kamu butuh bantuan saya. Tenaga, pikiran atau bahkan urusan financial.
That's what a friend is for.
Intinya apapun kamu (asal tidak jahat sama saya) akan tetap saya anggap penting hehehehe ....
Kamu tidak penting di mata teman kamu di luar sana ... dalam pandanga saya disini kamu tetap saja penting.
Kondisi dengan keluargamu juga saya jamin lebih mutlak. Keluargamu (anak istri) pasti dan 1000% saya yakin anggap kamu penting.

Begitu banyak orang punya posisi penting dan di pentingkan di luar rumah tapi di dalam intern rumah tangga mereka yang ada sangat kontras.
Contoh, mungkin ada dalam sinetron saja hi hi hi hi .... di kantor jadi manager dan punya posisi penting. Punya wewenang memutuskan sesuatu atau memerintah bawahan ... tapi di rumah jadi ISTI. Tukang pel, cuci piring dan cuci cd punya istri atau mungkin bahkan gosokin baju nya mertua segala ... parah kan.... huahahahahaha....

Teman saya yang yang tadinya di tekuk mukanya mendadak lurus! dan tanpa di komando tertawa terbahak-bahak. Kemungkinan terhibur dengan omongan saya yang saya susupi unsur banyolan.
Saya lega saja bisa buat dia berubah normal dan tidak bete lagi. Paling tidak dengan semprotan saya tadi dia terhibur wkwkwkwkwk...

So now, apa kamu masih dengan kesimpulan bahwa semua teman kamu itu buruk?!.

Manusia itu macam-macam sifat dan karakternya, bisa jadi orang yang kamu kenal dan anggap teman ternyata bukan teman.
Mereka hanya sekelompok manusia yang kebetulan ada di dalam lingkaran hidupmu.
Mungkin dari sekian banyak orang-orang di dalam lingkaran hidupmu baik nnyata atau dalam dunia maya, hanya satu dua yang benar bisa di jadikan teman.

Kembali ke contoh hal yang di keluhkan karib saya tadi.
Kalau dalam masalah pekerjaan, saya kira dalam duniamu tidak perlu di risaukan.
Kamu seorang wiraswasta, apalagi bidang pekerjaan kamu memberi kesempatan kamu bertemu orang yang berbeda-beda.
Selalu bervarisai hari-hari kamu. Bertemu orang-orang yang baru dan fresh he he ...
Pekerjaan tujuan utamanya adalah mencari duit. Kalau mendapat teman dan teman itu hanya efek penyerta saja. Tidak primer.
Perlu di tambahkan, efek penyerta bisa saja baik bisa juga buruk dan sangat buruk wkwkwkwkw ...
Kenapa repot?!

Dalam pergaulan sosial (bukan urusan pekarjaan), sample dalam prakteknya semacam bertemu dan berinteraksi baik secara fisik maupun maya semacam online misalnya.
Menurut saya, mulai sekarang jangan tempatkan pergaulan yang diluar urusan pekerjaan menjadi prioritas.
Seperlunya saja. Apalagi posisi mu sudah married. Alokasi waktu yang harus di prioritaskan adalah bekerja dan keluarga.
Masalah pergaluan sosial tempatkan di urutan ke sekian saja.
Sehingga ketika jika ada orang-orang yang kamu kenal cuekin kamu, kamu tenang-tenang saja dan tidak merasa menderita hi hi hi hi ...
Intinya pergaulan sosial penting tapi keluarga dan pekerjaan lebih penting.

Kalau untuk lingkup kesamaan minat atau hobi. Jika perlu temukan ganti hobi yang tidak perlu melibatkan interaksi nyata.
Ambil contoh kelompok penyuka ayam aduan, lomba kicau burung atau balap merpati, klub motor, dll. Itu contoh hobi yang menuntut interaksi riil.
Hobi semacam contoh si atas menuntut aturan yang kadang tertulis dan tidak tertulis yang harus di patuhi. Misal solidaritas antar member mutlak di butuhkan.
Sebagai gambaran jika salah satu teman gaul di sesama hobi dan arena dapat masalah kamu seakan di paksa untuk ikut ambil bagian. kalau tidak kamu akan di pandang tidak solider dan mendapat sangsi moral semacam di cueki.

Coba ganti dengan hobi otak atik elektronik, obok-obok kode html, buat blog atau iseng-iseng jualan online kecil-kecilan atau yang sederhana bercocok tanam di kebun belakang atau samping rumah.... bisa itu lebih bagus dan bisa mengahsilkan uang kalau kamu mampu mengupayakan dengan serious dan mentransformasi secara komersil menjadi bisnis sampingan.
Lebih terfokus dan di persempit (tapi memerlukan energi extra) adalah jika kamu bisa jadikan pekerjaan dan hobi jadi satu. Hobimu yang pekerjaaanmu. Pekerjaanmu ya hobimu.

Itu sekilas ocehan antara saya dan seorang teman beberapa hari yang lalu dan kesimpulannya silahkan cari sendiri ya ...
Bingung juga mau di kasih judul apa yang tepat postingan ini. Asal saja.

Till my next posts ...