Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2015

Taubatnya Umat Nabi Muhammad SAW



Nabi Muhammad SAW telah dijamin akan selalu diampuni jika memang ada dosa atau kekeliruan yang beliau lakukan, baik yang telah berlalu atau yang akan datang. Namun demikian, beliau tak henti-hentinya beribadah, shadaqah dan berbagai macam amal kebaikan lain, serta tidak pernah sama sekali melanggar larangan syariat. Tidak cukup itu, beliau masih beristighfar kepada Allah, setiap harinya tujuhpuluh kali, riwayat lainnya seratus kali. Ketika istri beliau, Aisyah RA pernah ‘mempertanyakan’ gencarnya ibadah dan istighfar beliau itu, Nabi SAW bersabda,
“Apakah tidak selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur??”
Namun demikian, terkadang Nabi SAW tampak dalam keadaan sedih. Yang menjadi beban pikiran beliau adalah umat beliau. Iblis dan syaitan begitu gencar melakukan berbagai macam cara untuk menjerumuskan umat Islam. Gebyar dunia dan hawa nafsu menjadi kendaraan syaitan untuk menyesatkan umat beliau, terutama yang hidup belakangan. Semua itu memang pernah ‘ditampakkan’ Allah kepada beliau, baik ketika perjalanan Isra’ Mi’raj, atau dalam mimpi-mimpi beliau.

Ketika dalam kesedihan seperti itu, Malaikat Jibril AS datang kepada Nabi SAW dan berkata,
"Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengirimkan salam kepadamu, dan berfirman : Barang siapa yang bertaubat dari umatmu, setahun sebelum kematiannya, maka taubatnya akan diterima!!”
Setelah berterima kasih dan menjawab salam-Nya, Nabi SAW bersabda,
“Wahai Jibril, setahun itu sangat banyak (lama), karena kelalaian dan panjang angan-angannya (tulul amal) umatku itu sangat mendominasi kehidupan mereka!!”
Jibril berkata, 
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, 
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman : Siapa yang bertaubat sebelum kematiannya, berselang satu bulan, maka taubatnya akan diterima!!”
Nabi SAW bersabda, 
“Wahai Jibril, satu bulan itu masih terlalu lama untuk umatku!!”
Jibril berkata, 
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, 
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman : Siapa yang bertaubat dari umatmu, sehari sebelum kematiannya, maka taubatnya akan diterima!!”
Nabi SAW bersabda,
“Wahai Jibril, satu hari itu masih terlalu lama untuk umatku!!”
Jibril berkata, 
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, 
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu berfirman : Siapa yang bertaubat dari umatmu, satu jam sebelum kematiannya, tentu taubatnya akan diterima!!”
Nabi SAW bersabda, 
“Wahai Jibril, satu jam itu masih terlalu lama untuk umatku!!”
Jibril berkata, 
“Aku akan menyampaikan ucapanmu kepada Allah, dan sesungguhnya Dia itu Maha Mengetahui…!!”
Tidak berapa lama Jibril datang lagi kepada Nabi SAW, dan berkata, 
“Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan Dia berfirman : Barang siapa dari umatmu yang melalui semua umurnya dengan kemaksiatan, dan ia belum kembali (bertaubat) kepada-Ku kecuali setahun sebelum kematiannya, atau sebulan, atau sehari, atau satu jam sebelum kematiannya, atau bahkan sebelum ruhnya sampai di tenggorokannya, dan tidak memungkinkan baginya untuk bertaubat atau meminta maaf dengan lidahnya, kecuali hatinya yang menyesal (atas dosa-dosa yang telah dilakukannya), maka sungguh Aku akan mengampuninya!!”

Nabi SAW amat gembira dengan kemurahan Allah atas umat beliau tersebut, dan tidak henti-hentinya mengucap syukur. Sungguh benarlah firman Allah, QS adh Dhuha ayat 5, 
“Walasaufa yu’thiika rabbuka fatardhoo!!” Artinya: Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga hatimu menjadi ridho (puas, senang).
Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW mengunjungi seorang lelaki dari kalangan Anshar yang sakit dan dalam keadaan sakaratul maut (naza’). Melihat keadaannya tersebut, beliau bersabda, “Bertaubatlah kamu kepada Allah!!”

Sahabat Anshar tersebut sepertinya memahami perkataan Rasulullah SAW, tetapi anggota tubuhnya tidak bisa bereaksi. Mulutnya tidak bisa mengucap istighfar atau kalimat tauhid, laa ilaaha illallah, tangannya tidak bisa diangkat untuk mengisyaratkan doa dan istighfarnya, hanya saja tampak bola matanya bergerak ke atas, seakan-akan memandang ke langit.

Tidak lama kemudian tampak Nabi SAW tersenyum, padahal saat itu kebanyakan yang hadir dalam keadaan bersedih dan khawatir karena orang Anshar tersebut sama sekali tidak menanggapi perintah Nabi SAW. Umar bin Khaththab yang menyertai beliau dan meriwayatkan peristiwa ini berkata, “Apa yang membuat engkau tersenyum, ya Rasulullah?”

Masih dengan tersenyum, beliau bersabda, 
“Orang yang sakit ini tidak bisa bertaubat dengan lidahnya. Tetapi ia bertaubat dengan isyarat matanya ke langit dan hatinya melakukan penyesalan. Dan Jibril baru saja memberitahukan kepadaku bahwa Allah berfirman : Wahai malaikat-Ku, hamba-Ku ini tidak bisa bertaubat dengan lidahnya, namun ia sangat menyesal di dalam hatinya. Dan Aku tidak menyia-nyiakan taubat dan penyesalan di dalam hatinya, dan saksikanlah bahwa Aku memberikan pengampunan kepadanya!!”
BUAT PENGINGAT KITA SEMUA :
Tentu saja kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW tidak boleh lalai dan ‘keasyikan’ dalam kemaksiatan, walau ada kemurahan Allah yang begitu besarnya seperti itu. Sesungguhnya kita tidak pernah tahu, kapan ajal kita tiba. Dan ajal bisa saja datang menjemput dengan tiba-tiba tanpa peringatan atau sakit terlebih dahulu. Karena itu, sebaiknya kita segera bertaubat dalam kesempatan pertama. Kalau di kemudian terjatuh lagi dalam maksiat, segera saja bertaubat. Allah tidak pernah bosan menerima taubat hamba-Nya, selama hamba tersebut belum ‘bosan’ bertaubat. Jangan pernah mengikuti ‘jejak’ Iblis yang tidak mau bertaubat, atau malas dan bosan bertaubat karena putus asa dari rahmat Allah.

Selasa, 06 Oktober 2015

Dari Istighfar ke Tobat - Tobatnya Orang Awam, Khawas dan Khawas Al-Khawas



Istighfar adalah ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astagfirullah al-’adzim. 
Sedangkan, tobat lebih dari sekadar mengucapkan lafaz istighfar, tetapi menuntut persyaratan lebih banyak. Jadi, jelas tobat lebih berat daripada istighfar.

Al-Qusyairi dalam risalahnya membagi tobat itu menjadi tiga macam, yaitu 
  • Tobat dari segala kesalahan dan dosa, inilah tobatnya orang awam; 
  • Tobat dari kelalaian untuk mengingat Allah SWT, inilah tobatnya orang khawas; 
  • Tobat dari penglihatan terhadap segala kebaikan, inilah tobatnya orang khawas al-khawas.
Orang yang tobat karena takut siksaan disebut tobat. Orang yang tobat karena ingin meraih pahala, disebut inabah. Orang yang tobat bukan karena takut neraka atau mengejar pahala, tapi hanya semata-mata karena menuruti perintah disebut aubah.

Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (660 H) dalam karya Haqaiq al-Haqaiq, membagi tobat itu kepada dua bagian besar.
  • Pertama, tobat orang awam, yaitu kembali dari segala kemaksiatan menuju kepada ketaatan dengan cara meninggalkan (pengaruh dan keterikatan) dunia dan mencari kehidupan akhirat.
  • Kedua, tobat khawas, yaitu kembali dari mencari akhirat dan kenikmatan surga menuju pada ibadah kepada Allah hanya semata karena zat-Nya yang Mahasuci, bukan karena mencari pahala dan bukan pula karena takut akan siksaan.
Oleh karena itu, tobatnya masyarakat awam justru sebagai sebuah dosa bagi kalangan orang khawas, sebagaimana dalam hadis, “Kebaikan orang-orang saleh merupakan kejahatan orang-orang muqarrabin.”

Kemudian al-Khawas ia bagi dua lagi, yaitu al-‘Arifun dan al-Muqarrabun. Al-Muqarrabun ialah mereka yang masuk kategori hawas al-khawas.

Tobat pada bagian pertama di atas merupakan tanjakan awal dalam menempuh jalan menuju Allah dan maqam (tahapan) awal dalam mencari ridha Allah. Sesungguhnya Allah selalu mendorong manusia agar segera bertobat.

Dalam firman-Nya disebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba maka dosa itu tidak akan memberi mudarat pada dirinya.” Lalu, beliau membaca ayat tersebut (QS al-Baqarah [2]:222).

Maksudnya, Allah memberi taufik kepadanya untuk bertobat dan Allah menerima tobatnya maka dosa yang pernah dilakukan sebelum tobat itu, tidak ada lagi melekat pada dirinya. 
Nabi SAW juga selalu memotivasi untuk segera bertobat, sebagaimana dalam sabdanya, 
“Orang yang bertobat seperti orang yang tak berdosa”. Dalam hadis lain dikatakan, “Tak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah, daripada seorang pemuda yang bertobat.” 
Rasulullah SAW pernah ditanya istrinya, Aisyah RA,
“Mengapa engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT?” 
Rasulullah menjawab singkat,
 “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur?”
Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna tobat tidak hanya sekadar pembersihan diri dari dosa dan maksiat, tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah).

Inabah yang merupakan sifat dasar al-tawwabin, sesungguhnya menjadi ciri khas para wali dan para orang dekat Tuhan (muqarrabin). Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran, “Wa ja’a bi qalbin salim (Dan dia datang dengan hati yang bertobat).” (QS Qaf [50]: 33).

Selain inabah, juga dikenal istilah lain, yaitu aubah merupakan sifat para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman-Nya, “Ni’mal ‘abd innahu awwab” (Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [35]: 44).

*Prof Dr Nasaruddin Umar di http://www.republika.co.id

Minggu, 04 Oktober 2015

Masuk Surga Semata Karena Rahmat-Nya, Bukan Sebab Banyaknya Pahala Amal Ibadah



Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ada seorang hamba yang melakukan ibadah selama 500 tahun, ia hidup di puncak gunung yang berada di tengah laut.

Allah mengeluarkan mata air di puncak gunung itu, airnya sangat segar

Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam mengeluarkan satu buah delima matang.

Jika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan. Kemudian mengerjakan shalat

Ia berdoa kepada Allah Ta’ala agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah

Selanjutnya, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah Ta’ala, lalu Allah berfirman, ‘Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.’ Hamba itu membantah, 

‘Ya Rabbi, aku masuk Surga karena Amalku.’ Kemudian ditimbanglah nikmat Allah dengan amal perbuatannya.’ Maka ia dapati bahwa kenikmatan penglihatan yang dimilikinya lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan lain.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!’

Hamba itu lalu berkata, ‘Ya Rabbi, benar aku masuk Surga hanya karena rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam SurgaMu.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalikanlah ia.’ Kemudian ia dihadapkan lagi pada Allah Ta’ala, ‘Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?’

‘Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?’

‘Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung dikelilingi laut kemudian mengalirkan untukmu air segar di tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali?

Lalu siapakah yang mencabut nyawamu ketika engkau bersujud? .

Hamba itu menjawab, ‘Engkau ya Rabbi.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu pula Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga!

"Sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah Ta’ala.” (HR. Al-Hakim)

Minggu, 30 Agustus 2015

Ubudiyah Dalam Dunia Tasawuf



I. LATAR BELAKANG
Kita mencoba mengkaji tentang beberapa istilah dalam dunia tasawuf yang lebih dispesifikan pada istilah ubudiyah, memang sangat sulit jika mengkaji materi masjid untuk dijadikan materi ilmiah menurut keterangan dosen Kajian Teks Tasawuf Kadir Riyadi, Ph. D namun kami tetap berusaha menjadikannya sebagai materi yang bisa dikatakan mendekati layaknya ilmiah,

Ubudiyah dalam dunia tasawuf sebenarnya bersifat relatif, Ubudiyah merupakan cara spiritual yang dilakukan oleh seseorang yang sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, tiada takaran pasti dalam menjelaskannya, Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya Risalah Qusyairiyah menerangkan konsep ubudiyah ini tidak melalui definisi namun dengan menukil dan mengumpulkan pendapat-pendapat para sufi dan ulama’ lainnya.

Ubudiyah dalam segi bahasa di ambil dari kata Ibadah, yaitu menunaikan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba Allah, namun ubudiyah disini tidak hanya sekedar ibadah biasa, ibadah yang memerlukan rasa penghambaan, yang diinterpetasikan sebagai hidup dalam kesadaran sebagai hamba.[1]
Jiwa yang memiliki muatan sifat ubudiyah adalah jiwa yang didalamnya terkandung seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati, sabar dan sebagainya. Jadi didalam mengerjakan ibadah hatinya dipenuhi rasa tanggung jawab.
Perbedaan antara ibadah dan penghambaan sangatlah halus, ibadah sendiri dicontohkan semua kewajiban mencari rezeki dan kebutuhan jasmaniah, dengan niat mendapat ridha Allah.
Sedangkan perbuatan ibadah yang diperlukan rasa penghambaan yang dilakukan dengan cara lain dan tanggung jawab yang merupakan dimensi batin dari pemenuhan tugas mencari nafkah dan keperluan jasmani, dan ini merupakan derajat kesadaran tertentu didalam penghambaan[2]

Untuk lebih memahami tentang ubudiyah itu seperti apa, maka dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan pengertian ubudiyah dengan menganalisa pendapat-pendapat para sufi dan ulama yang disebutkan dalam Risalah Qusyairiyah dan membandingkan dengan pendapat dari buku lain, unsur yang terdapat dalam ubudiyah dan bagaimana pengaruh ubudiyah dalam ibadah seseorang.

II. UBUDIYAH DALAM KITAB RISLAH AL-QUSYAIRIYAH
Dengan berdasar pada ayat Alqur’an surat Al-Hijr ayat 99

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Q.S. Al-Hijr: 99)[3]

Sehingga ubudiyah secara umum dapat diterjemahkan sebagai ibadah yakni menyembah Allah dengan sungguh-sungguh. Ibadah dalam wilayah ini sudah benar-benar ditujukan hanya untuk Allah, tidak untuk selain-Nya. Dipenuhi rasa penghambaan kepada Alloh.

Makna ibadah adalah sebuah ketundukan yang total dan maksimal yang hanya dipersembahkan kepada Allah karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya.
Ketundukan ini dibuktikan dengan melakukan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Untuk lebih memahami penerapan ubudiyah kita dapat melihat contoh Ketika nabi Musa as mengembara mencari guru untuk belajar ilmu-ilmu batiniah yang berbeda dengan ilmu lahiriah, Allah mempertemukan beliau yang saat itu disertai Yusa’ bin Nun di sebuah tempat perpaduan dua lautan (majma’ul Bahrain) dengan seorang “abdan min ‘ibadina”, seorang hamba Allah yang saleh, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an, karena ketinggian kualitas ubudiyah serta keiklasannya, maka ia bisa mendapatkan karunia ilmu laduni yaitu ilmu yang didapat dengan mudah tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu.
Atau dalam contoh lain Ketika iblis bersumpah akan menyesatkan semua anak cucu adam, maka terpelesetlah lidahnya sehingga menyebutkan sebuah rahasia besar bahwa ada segolongan manusia yang tidak akan termakan rayuannya, “ia adalah hamba-hamba Alloh yang Ikhlas” seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat as-Shad ayat 83. Disini kita temukan kembali keampuhan dari maqam ubudiyah yang dimiliki seseorang.[4] Jadi jiwa yang memiliki muatan sifat ubudiyah adalah jiwa yang mempunyai rasa seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati, ikhlas dan sebagainya.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Abu Hurairah RA bahwa Rosululloh SAW bersabda :

سبعة يظلهم الله فى ظله يوم لا ظل الا ظله امام عادل وشاب نسأ بعبدة الله تعالى
ورجل قلبه معلق بالمسجد ادْا خرج منه حتى يعود اليه ورجلان تحاب فى الله اجتمع على دْالك
وتفرقا عليه ورجل دْكر الله تعالى خاليا ففاضة عيناه ورجل دعته امرأة دْات حسن و جمل فقال انى اخاف الله
رب العالمين ورجل تصدق بصدقة فاخفاهاحتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

Tujuh orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya. Imam yang adil, Pemuda yang gemar melakukan ibadah kepada Alloh. Seorang yang hatinya selalu bergantung (berhubungan) dengan masjid apabila keluar sampai dia kembali, Dua orang yang saling mencintai karena Alloh, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, Seorang yang berzikir kepada Alloh sendirian maka kedua matanya berlinang air mata, Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik jelita dan ia menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada Alloh Tuhan semesta alam” dan Seseorang yang bersedekah dengan suatu pemberian secara tersembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya. (HR. Turmudzi)[5]

Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi dalam bukunya Risalah Qusyairiyah mengatakan, bahwa ia telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Ubudiyah lebih sempurna daripada ibadah.

Tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ‘ubudah.
  1. Ibadah itu dimiliki oleh orang awam (umum). 
  2. Ubudiyah dimiliki oleh orang khawas. 
  3. Ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas.” 
Beliau juga mengatakan,
  1. Ibadah dimiliki oleh orang yang memiliki ilmu yakin. 
  2. Ubudiyah dimiliki oleh orang yang mempunyai ainul yakin. 
  3. Dan ubudah dimiliki oleh orang yang mempunyai haqul yakin”
Beliau juga mengatakan,
  1. Ibadah dimiliki oleh orang yang mujahadah (bersungguh-sungguh). 
  2. Ubudiyah dimiliki oleh orang yang Mukabadah (Yang terbebani dengan beratnya cobaan).
  3. Ubudah dimiliki oleh orang yang musyahadah (menyaksikan Tuhan).

” Barang siapa yang tidak merendahkan dirinya maka dia adalah pemilik ibadah. Barang siapa yang tidak kikir pada hatinya maka dia adalah pemilik ubudiyah. Sedangkan barang siapa yang tidak kikir pada ruhnya maka ia adalah pemilik ubudah.[6]

Jadi Ubudiyah merupakan tingkatan ibadah untuk orang yang sudah memiliki kualitas tinggi terhadap imannya dan tauhidnya, sehingga didalam tiap-tiap ibadah dan do’anya selalu didasari rasa kehambaan diri kepada Allah (Aal-`Ubudiyah).

Oleh sebab itu Kenikmatan berdo’a layaknya ubudiyah dapat dirasakan apabila kita telah menghayati do’a tiga macam:
  1. Menyerah kepada Allah pada suatu tujuan, dengan berbaik sangka yakni beranggapan bahwa Tuhan lebih mengetahui apa yang paling baik buat kita.
  2. Bertawakkal kepada Allah dalam kita mendapatkan diri kepadaNya. Artinya kita tidak berpegang kepada lainnya selain hanya kepada Allah
  3. Kita rela pada apa yang diputuskan oleh Allah. Artinya apakah Allah memperkenankan doa kita atau tidak. Jika Allah memperkenankan maka kita bersyukur kepadaNya dan jika tidak maka kita pun menerimanya juga dengan ikhlas.

Seseorang yang sudah sampai kepada tingkatan maqom ini berarti tauhidnya telah begitu tinggi dan murni oleh karena itu hatinya selalu tunduk kepada Allah dalam segala hal.

Didalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah ini juga disebutkan tentang satu pendapat mengatakan bahwa :
yang dimaksud ubudiyah adalah menegakkan ketaatan secara bersungguh-sungguh dengan pengagungan, memandang apa yang datang dari dirimu dengan pandangan merendahkan, dan menyaksikan sesuatu yang dihasilkan dari perjalanan hidupmu sebagai ketetapan Allah. 
Menurut pendapat yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiyar terhadap sesuatu yang riil sebagai suatu ketetapan. Dan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud ubudiyah adalah menolak daya upaya dan kekuatan dan mengakui sesuatu yang telah diberikan dan diatur oleh Allah berupa umur yang panjang dan anugerah. 
Lalu menurut sebagian yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang.[7]

Al-Qusyairi juga menyebutkan didalam kitabnya Risalah Al-Qusyaisiyah, bahwa Abu Abdullah Muhammad bin Khafif pernah ditanya “Kapan ubudiyah dianggap sah.” Dia menjawab, “Apabila dia telah melimpahkan semua urusan kepada Tuhannya dan bersabar atas cobaan-Nya”.

Seorang yang beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh tidak boleh mengeluh dengan keadaannya, jika ia mengeluh maka tidak dianggap syah ibadahnya tadi.
Menurut Sahal. Ibadah seseorang tidak dianggap sah sampai ia tidak mengeluh dalam empat hal : Lapar, telanjang dengan tidak memiliki pakaian, fakir dan hina. 
Menurut satu pendapat yang dimaksud ubudiyah adalah menyerahkan segala urusan kepada Alloh dan menanggung semua urusannya. Menurut satu pendapat lagi, tanda-tanda ubudiyah adalah menghindarkan pengaturan dan menyaksikan ketetapan.

Dzunun Al-Mishri mengatakan, “Yang dimaksud ubudiyah adalah menjadi hamba yang selalu berada di dalam segala hal sebagaimana Tuhan yang selalu berada dalam segala hal. “. Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Penghamba kenikmatan sangat banyak jumlahnya dan penghamba Dzat Pemberi nikmat sangat kuat eksistensinya”. [8]

Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata, “Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ‘ Engkau adalah budak yang engkau sendiri berada di dalam perbudakannya dan tawanannya. Apabila engkau berada di dalam tawanan dirimu , maka engkau adalah budak duniamu’’.

Rasulullah bersabda :

تعس عبد الدرهم تعس عبد الديار تعس عبد الخميصة


Alangkah celaka budak dirham, celaka budak rumah, celaka budak pakaian. (HR. Bukhori)[9]


Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata saya telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Saya telah mendengar Ibrahim An-Nash Abadzi berkata,’Nilai orang yang menyembah tergantung dari yang disembah, sebagai mana kemuliaaan orang yang makrifat tergantung yang dimakrifati”.

Menurut Abu Hafs, Ubudiyah adalah hiasan hamba. Barang siapa yang meninggalkannya maka ia tidak akan mendapatkan hiasan. Menurut An-Nabaji, dasar ibadah memiliki tiga bentuk :
  1. Tidak menolak hukum hukum Alloh
  2. Tidak merendahkan sesuatu.
  3. Tidak meminta kepada orang lain karena kebutuhan.
Menurut Ibnu Atha’ Ubudiyah memiliki empat bentuk,
  1. Memenuhi janji
  2. Menjaga batasan-batasan hukum
  3. Ridha terhadap sesuatu yang ada
  4. Sabar terhadap sesuatu yang tidak ada
‘Amru bin Utsman Al Makki menuturkan kisahnya,
“Saya tidak pernah melihat seorang penyembah di kebanyakan tempat yang saya temui di Makkah Al-Mukarramah, tidak juga seorang pun yang datang kepada kami pada musim-musim haji atau yang lain, yang sungguh-sungguh beribadah. Tidak pula dijumpai perilaku ibadah yang berketetapan dan terus menerus menjalankan ibadah dengan keberanian menanggung hal-hal yang sulit. Saya juga tidak melihat seorangpun yang benar-benar mengagungkan perintah Alloh, tidak pula hamba yang berani mempersempit dirinya dan memperluas orang lain.”

Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi berkata, “Guru saya Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada Ubudiyah dan tidak ada nama yang lebih sempurna bagi orang mukmin selain nama yang diakitkan dengan fungsi ubudiyah / penghambaan. Oleh karena itu Alloh mensifati Nabi terkasihnya Muhammad pada malam mi’raj dengan panggilan :

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al-Isra’ : 1)[10]

[847] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.

Dan firman Allah yang lain :
lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.(Q.S. An-Najm : 10)[11]

Sehingga seandainya ada gelar yang lebih mulia daripada sifat kehambaan tentulah Dia telah memberikannya untuk beliau. Dalam konteks inilah disya’irkan :

Wahai Amru, membalaskan tumpahnya darahku demi Zahra-ku
Penglihatan dan pendengaran tahu semua ini
Jangan panggil diriku kecuali dengan “Wahai hamba Zahra”
Sesungguhnya nama termulia panggilan itu bagiku

Sebagian ahli sufi mengatakan, “Hanya ada dua yang penting, senang dengan sesuatu yang lekat pada dirinya dan percaya pada kemampuan gerak. Jika dua perkara ini terlepas dari anda maka anda benar-benar telah membuktikan fungsi ubudiyah.”

Waspadalah kalian pada lezatnya pemberian sesungguhnya kelezatan ini menjadi tutup bagi orang-orang yang berhati jernih”. Demikian kata Muhammad Al-Wasithi.

Abu Ali al-Jurjani mengatakan, “Ridha adalah ruang ubudiyah. Sabar adalah pintunya, sedagnkan sikap pasrah adalah rumahnya. Karena itu suara ubudiyah berada di pintu, kekosongan diri berada di dalam ruangan, dan istirahat terletak di dalam rumah”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Sebagaimana Rububiyah (sifat ketuhanan) merupakan sifat Al-Haq yang tidak pernah berubah, maka ubudiyah sebagai sifat hamba tidak boleh terpisah selamanya”.

Sya’ir :
Jika kalian meminta kepada-Ku
Katakan “inilah saya hamba-Nya”
Sekalipun mereka yang meminta
Mengatakan “inilah Engkau Tuhanku”.

Ibrahim An-Nashr Abadzi mengatakan, “Ibadah menuntut kelapangan, sedangkan permohonan maaf yang disebabkan kekurangannya adalah lebih dekat pada permintaan ganti dan balasan. Ubudiyah menggugurkan penglihatan hamba atas ketersingkapan intuisi pada yang Disembah.

Menurut al-Junaid, Ubudiyah adalah sikap meninggalkan kesibukan,dan penyibukan diri dengan hal yang merupakan pangkal dari kekosongan (fana’).

III. HAKIKAT UBUDIYAH


Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, hakikat ubudiyah itu ada tiga macam :

  • Seorang tidak menganggap apa yang Alloh karuniakan kepadanya sebagai miliknya
  • Seseorang tidak membuat suatu aturan (tadbir) bagi dirinya
  • Seseorang harus menyandarka seluruh aktivitasnya sesuai dengan perintah dan larangan Alloh.
Apabila seorang hamba tidak menganggap adanya hak kepemilikan terhadap apa yang Alloh anugrahkan kepadanya, maka upaya untuk menginfakkan harta sesuai dengan apa yang diperintahkan Alloh akan terasa ringan baginya. Sebab, harta tersebut bukan miliknya, sehingga tidak layak dia bersikap bakhil. Apabila seorang hamba menyerahkan pengaturan dirinya kepada Zat Yang Maha Mengatur, maka dia akan merasa enteng atas berbagai musibah dunia. Apabila seorang hamba sibuk dengan berbagai perintah dan larangan Alloh, dia tidak mempunyai kesempatan untuk berbantah-bantahan dan berbangga-bangga terhadap manusia. Apabila Alloh telah memuliakan seseorang dengan tiga perkara itu maka terasa ringanlah baginya segala urusan dunia, godaan iblis dan makhluk lain. Dengan begitu maka manusia dalam usahanya mencari rizki tidak akan bermaksud bersaing dan bermegah-megahan dengan orang lain. Dalam segala hal maka dia tidak ingin mencari kemuliaan dan kedudukan ditengah-tengah manusia, dia tidak juga membiarkan hari-hari nya dalam keadaan bathil dan ini merupakan awal dari tingkatan takwal.[12]

Ubudiyah memberikan terapi psikologi yang luar biasa, selain mengajarkan bagaimana tata cara beribadah yang benar-benar layaknya hamba beribadah pada tuhannya, ubudiyah juga memberikan dampak yang sangat baik bagi pengaturan gaya hidup seseorang, dengan tidak menganggap segala sesuatu didunia ini adalah milik Alloh maka tiada beban dalam beramal, sehingga selain orang itu dermawan ia juga akan mendapatkan kesan baik yang muncul dari masyarakat disekitarnya, ia akan disenangi oleh mereka dan kerukunan antar masyarakat dapat terjalin. Selain itu jika ia bergaya hidup sesuai dengan kemampuannya tidak bersaing bermegah-megahan atau ingin mendapatkan kemuliaan ditengah-tengah masyarakat, hidupnya akan lebih stabil, tidak menggebu-gebu berambisi yang bisa membuat badan dan rohaninya sakit, jika seseorang sangat berambisi untuk mendapatkan sesuatu dan belum diijinkan untuk dimilikinya maka akan timbul kontra atau sejenis gejolak protes dalam jiwanya, jiwa yang bergejolak maka berdampak pada badan yang sakit. Akan tetapi jika seseorang tersebut tidak berambisi dan saat ia diijini untuk memperoleh kekuasaan atau kemuliaan dihadapan manusia maka itu terasa bahwa Alloh memberikan karunia terhadapnya.

IV. TINGKATAN-TINGKATAN UBUDIYAH
Dalam ubudiyah terdapat tingkatan-tingkatan menurut siapa yang menjalani dan mendapatkannya,

Pertama ubudiyah yang bersifat umum. ubudiyah ini bisa dilakukan oleh setiap makhluk Alloh baik muslim ataupun kafir. Inilah yang diistilahkan dengan ketundukan terhadap takdir dan sunnatullah. Allah berfirman:

tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Q.S. Maryam : 93)[13]

hamba yang dimaksud di dalam ayat ini masuk juga orang-orang kafir. Seperti dalam istilah senyum adalah ibadah, orang yang beribadah layaknya senyum tidak harus orang muslim, orang kafirpun bisa senyum dan itulah yang dimaksud ubudiyah tingkat pertama ini.

Kedua, ubudiyah ketaatan yang bersifat umum. Disini mencakup ketundukan setiap orang terhadap syariat Allah, sebagaimana firman Allah:

dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(Q.S. Al-Furqan : 63)[14]
Didalamnya adanya kepatuhan dan ketundukan dalam menjalani syari’at Alloh, jadi yang dimaksud ubudiyah ini adalah melaksanakan perintah-perintah syariat Alloh dengan penuh rasa penghamba’an dan rendah hati, dan ubudiyah disini dimaksud untuk orang muslim

Ketiga, ubudiyah yang khusus. adalah tingkatan para Nabi dan Rasul Alloh. Sebagaimana firman Alloh tentang Nabi Nuh:

(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Q.S. Al-Isra’ :3)[15]

Kemudian Allah berfirman tentang Rasulullah:

dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S. Al- Baqoroh : 23)[16]

[31] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.

Dan Allah Ta'ala berfirman tentang seluruh para rasul:

dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Q.S. Shaad : 45)[17]

Ini merupakan ubudiyahnya para rasul yang tidak ada seorangpun akan bisa mencapainya.[18] Karena tingkat ubudiyah rosul adalah tingkat ubudiyah yang sudah tinggi, hamba yang dimaksud didalam ayat-ayat itu adalah Rosul, rasa penghambaan seorang rosul dalam beribadah kepada Alloh jelas sangat jauh tingkatannya dari penghambaan kita sebagai umatnya.

Terdapat pula adab-adab berubudiyah :

Adab di hadapan Allah Ta'ala :
  • Merendahkan diri dan merasa kurang dari Alloh
  • Tidak meminta kepada Alloh sesuatu yang tidak layak
  • Menampakkan Kesempurnaan Ubudiyah dengan menggugurkan permintaan, bahkan permintaan ingin masuk surga dan selamat dari neraka sekalipun
  • Hendaknya tidak membesarkan amal perbuatan sendiri ataupun ketaatan Sendiri, melainkan membesarkan kurnia Alloh, dan tidak membesarkan penampilan kekuasaan dan kekuatannya. melainkan membesarkan kekuasaan dan kekuatan Alloh
  • Hendaknya tidak mengeluh terhadap tuhannya apabila terjadi sesuatu yang buruk, seperti saat ditimpa musibah, cobaan, dan sebagainya
  • Hendaknya tidak melontarkan perkataan yang argumentatif kepada Alloh
  • Bersyukur kepada Alloh atas nikmatnya di dalam semua keadaan
  • Mengagungkan nama Alloh yang Maha Tinggi
  • Menunjukkan Ubudiyah terhadap Keagungan dan Keindahan
Ubudiyah dilihat dari pendapat-pendapat dan hakikat serta adabnya dapat diartikan sebagai tatacara untuk beribadah kepada Alloh secara sungguh-sungguh dengan dipenuhi rasa kehambaan dan rasa tanggung jawab. Sehingga dapat lebih mendekatkan diri kepada Alloh secara sempurna

V. ANALISA
Hal yang dapat saya tangkap dari penjelasan mengenai ubudiyah dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah, ubudiyah dalam dunia tasawuf adalah menegakkan ketaatan secara bersungguh-sungguh dengan pengagungan, memandang kemampuan manusia adalah rendah dihadapan kekuasaan Alloh, dan meyakini bahwa segala perjalanan hidup ini adalah bagian dari ketetapan Alloh. Menurut pendapat yang lain yang dimaksud ubudiyah adalah meninggalkan ikhtiyar terhadap sesuatu yang riil sebagai suatu ketetapan. Kemudian masih didalam kitab Risalah Al-Qusyaisiyah, disebutkan bahwa Abu Abdullah Muhammad bin Khafif pernah ditanya “Kapan ubudiyah dianggap sah.” Dia menjawab, “Apabila dia telah melimpahkan semua urusan kepada Tuhannya dan bersabar atas cobaan-Nya”. Saya akan mencoba menganalisa dari kata-kata menyerahkan semua urusan kepada Tuhannya, melimpahkan semua urusan disini tidak bermakna menyerahkan semuanya secara mutlak sehingga manusia tidak melakukan usaha sedikitpun, manusia tetap diberi batasan untuk tetap berusaha mengusahakan apa yang terbaik bagi dirinya, setelah manusia berusaha memilih jalan untuk mengusahakan maka keputusan hasilnya baru ada ditangan Alloh, apakah usaha itu di berikan keberhasilan atau tidak itu wilayah Alloh, dan manusia yang berubudiyah akan bersabar dalam menjalani keputusan Alloh dengan berbaik sangka bahwa itu adalah keputusan yang terbaik yang dipilihkan Alloh untuknya.

Di dalam kitab Risalah Qusyairiyah disebutkan bahwa tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ‘ubudah. Ibadah itu dimiliki oleh orang awam (umum). ubudiyah dimiliki oleh orang khawas dan ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas. Kemudian jika saya sandingkan dengan pendapat dalam buku Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Amatullah Armstrong mengartikan istilah ubudiyah sebagai penghambaan, ubudiyah ini merupakan keadaan hamba yang mendekat kepada Alloh melalui ketaatan. Ubudiyah adalah kedekatan melalui pelaksanaan amal-amal sunnah (qurb al-nawafil). Ini merupakan maqam terendah dari empat maqam kesempurnaan, orang arif berhiaskan sifat-sifat penghambaan (ubudiyah) dan pengabdian (ubudah) setelah kehilangan dirinya sendiri di dalam Alloh (fana’ fillah). Dengan menjadi bukan sesuatu (la syay’) sang hamba kemballi kepada makhluk dengan pengabdian sempurna (ubudah).[19]

Dari kedua pendapat mengenai ubudiyah dari dua sumber yang berbeda itu sudah berbeda pemaknaannya dalam ubudiah, yang pertama mengatakan ubudiyah berada dalam tingkatan kedua setelah adanya ibadah sedangkan pendapat kedua mengatakan ubudiyah adalah tingkatan dasar yang disusul oleh ubudah, kalau menurut pendapat saya, saya cenderung untuk mendukung kebenaran pendapat pertama, karena ibadah dalam ubudiyah bukanlah asal ibadah seperti yang dilakukan orang pada umumnya, ubudiyah memerlukan ujian, rasa tanggung jawab dan rasa penghambaan yang benar-benar ditujukan pada Alloh selain itu ubudiyah juga di dipenuhi rasa takut, tawadhu’, rendah hati dan ikhlas dalam setiap melakukan perbuatan ibadah kepada Alloh. Jadi sebelum seseorang melakukan dan sampai pada tingkatan ubudiyah harus memalui tingkatan ibadah dahulu. Sehingga tata urutannya dimulai dari ibadah, kemudian ubudiah dan yang terakhir tingkatan ubudah yang dapat menyatu dalam tuhannya.

Orang yang mengaku berubudiyah dengan meninggalkan kewajiban dalam hal duniawiyah dengan menghabiskan sisa umurnya hanya semata-mata untuk beribadah itu tidak dibenarkan dalam tata karma, dan akan membuat sulit kehidupan manusia sendiri, ubudiyah tidak menuntut seperti itu dan tidak juga menyengsarakan kehidupan manusia, hanya saja ubudiyah Ismail bin Najid mengatakan, “Jangan mencintai seseorang yang mengerjakan Ubudiyah sehingga ia dapat menyaksikan perbuatannya memperoleh karunia dan menyaksikan keadaannnya memperoleh tuntutan.” Abdullah bin Manazil mengatakan.”Hamba adalah orang yang tidak menuntut pelayanan atas dirinya karena jika demikian maka dia telah menjatuhkan batasan Ubudiyah dan meninggalkan tatakrama.” Sahal bin Abdullah mengatakan Tidak layak bagi hamba beribadah hingga tidak dapat melihat pengaruh kemiskinan dalam ketiadaan, dan melihat pengaruh kekayaan dalam keberadaan”. Menurut satu ungkapan, Ubudiyah adalah menyaksikan Tuhan.

Kalau analisis kami tentang tulisan Al-Qusyairi dalam kitabnya, beliau terkesan hanya mengumpulkan beberapa pendapat ulama-ulama lain mengenai ubudiyah ini, konsep ubudiyah yang ditawarkan Al-Qusyairi ini tidak terlihat jelas, ia setuju dari pendapat yang mana, itupun tidak jelas, oleh sebab itu makalah ini jadi terkesan seperti terjemahan untuk menjelaskan masing-masing pengertian ubudiah dari pendapat ulama yang ada di dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah, tetapi saya sudah berusaha memadukan dengan pendapat dari buku lainnya

Dari keseluruhan analisa tadi saya lebih cenderung mendukung pendapat salah satu ulama yang ada di dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah ini yaitu pendapat Abu Ali Ad-Daqaq yang mengatakan bahwa ubudiyah lebih sempurna daripada ibadah. Tingkatan dasarnya adalah ibadah kemudian ubudiyah, dan yang tertinggi adalah ubudah. Ibadah itu dimiliki oleh orang awam (umum). Ubudiyah dimiliki oleh orang khawas. Ubudah dimiliki oleh orang khwas al-khawas. Beliau juga mengatakan, “Ibadah dimiliki oleh orang yang memiliki ilmu yakin. Ubudiyah dimiliki oleh orang yang mempunyai ainul yakin. Dan ubudah dimiliki oleh orang yang mempunyai haqul yakin”. Beliau juga mengatakan, ibadah dimiliki oleh orang yang mujahadah (bersungguh-sungguh). Ubudiyah dimiliki oleh orang yang Mukabadah (Yang terbebani dengan beratnya cobaan), Ubudah dimiliki oleh orang yang musyahadah (menyaksikan Tuhan).” Barang siapa yang tidak merendahkan dirinya maka dia adalah pemilik ibadah. Barang siapa yang tidak kikir pada hatinya maka dia adalah pemilik ubudiyah. Sedangkan barang siapa yang tidak kikir pada ruhnya maka ia adalah pemilik ubudah.[20]

VI. KESIMPULAN
Ubudiyah dalam segi bahasa di ambil dari kata Ibadah, yaitu menunaikan perintah Alloh dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba Alloh, namun ubudiyah disini tidak hanya sekedar ibadah biasa, ibadah yang memerlukan rasa penghambaan, yang diinterpetasikan sebagai hidup dalam kesadaran sebagai hamba.[21] Jiwa yang memiliki muatan sifat ubudiyah adalah jiwa yang didalamnya terkandung seperti rasa takut, tawadhu’, rendah hati, sabar dan sebagainya.

Makna ibadah adalah sebuah ketundukan yang total dan maksimal yang hanya dipersembahkan kepada Allah karena rasa cinta dan mengagungkan-Nya. Ketundukan ini dibuktikan dengan melakukan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang tampak maupun tersembunyi.

Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, hakikat ubudiyah itu ada tiga macam
  • Seorang tidak menganggap apa yang Allah karuniakan kepadanya sebagai miliknya
  • Seseorang tidak membuat suatu aturan (tadbir) bagi dirinya
  • Seseorang harus menyandarka seluruh aktivitasnya sesuai dengan perintah dan larangan Alloh.
Ubudiyah memberikan terapi psikologi yang luar biasa, selain mengajarkan bagaimana tata cara beribadah yang benar-benar layaknya hamba beribadah pada tuhannya, ubudiyah juga memberikan dampak yang sangat baik bagi pengaturan gaya hidup seseorang, selain itu juga ubudiah membawa dampak sosial dan kesehatan

Tentu sebagai orang yang dikenai beban syariat tidak menginginkan jikalau ibadah, pengabdian, dan pengorbanan kita tidak bernilai di hadapan Allah. Telah sepakat para ulama Ahlus Sunnah bahwa sebuah ibadah akan diterima oleh Allah dengan dua syarat, yaitu “mengikhlaskan niat semata-mata untuk Allah” dan “mengikuti sunnah Rasulullah.”

Baik buruknya orang yang melakukan ibadah dinilai dari niatnya, resolusi serta tekad dan ketulusannya. Ada orang yang menunaikannya karena punya tujuan ingin masuk surga, lalu orang yang menunaikan kewajiban atau tanggung jawab agar selamat dari api neraka, orang yang menunaikannya karena cinta dan takdzim kepada Alloh dan orang yang menunaikannya sebagai syarat hubungan antara Alloh sebagai satu-satunya pencipta yang patut disembah dengan manusia sebagai ciptaannya. [22]

Yang pertama dari golongan tersebut disebut pedagang, yang kedua adalah budak dan yang ketiga adalah pecinta dan yang keempat adalah hamba yang taat atau beriman.

-----
DAFTAR PUSTAKA


Al-Qusyairi An Naisaburi, Abdul Qasim Abdul Karim Hawazin. 1998. Risalah Qusaiyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf. Jakarta : Pustaka Amani.
Armstrong, Amatullah. 1996. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Bandung : Mizan.
Gulen, Fathullah. 2001. Kunci-Kunci Rahasia Sufi, ter. Tri Wibowo Budi Santoso. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ibrahim, Rizal. 2003. Menghadirkan Hati : Panduan Menggapai Cinta Ilahi. Jogjakarta: Pustaka Sufi.
MZ, Labib. ?. Kuliah Ma’rifat. Surabaya : CV. Bintang Pelajar.
Rifai, Moh. 1978. Ilmu Fiqh Islam Lengkap. Semarang : CV. Toha Putra.

[1] Fathullah Gulen, Kunci Rahasia Sufi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), 95.
[2] Ibid.
[3] Al-Qur’an, 15 : 99.
[4] Deddy Kurniawam, Aplikasi Filosofi Ibadah Dalam Kehidupan, (My Theatre Of Dream, 18 Juni 2008 7:32 AM)
[5] Hadits Riwayat At-Turmuzi, disebutkan di nomor 2392 dalam “Az Zuhud” bab “apa-apa yang datang didalam cinta di dalam Alloh”.
[6] Abdul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An Naisabuuri, Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), 280
[7] Ibid,.
[8] Ibid,.
[9] Hadits Riwayat Imam Bukhori nomer 60 dan 61 “Al Jihad” bab “ peliharaan diri di dalam perang di jalan Alloh” juga didalam “ Ar Riqaq atau perbudakan” bab “apa-apa yang tetap diantara fitnah harta”.
[10] Al-Qur’an, 17: 1.
[11] Al-Qur’an, 53 : 10.
[12] Jalaluddin Rakhmat, Kuliah-kuliah Tasawuf, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000), 214-215.
[13] Al-Qur’an, 19 : 93.
[14] Ibid, 25 : 63.
[15] Ibid, 17 : 3.
[16] Ibid, 2 : 23.
[17] Ibid, 38 : 45.
[18] (Al Qaulul Mufid, 1/36)
[19] Amatullah Armstrong, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, (Bandung: Mizan, 1996), 302.
[20] Abdul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An Naisabuuri, Risalah ………….., 280.
[21] Fathullah Gulen, Kunci Rahasia ,…………..95.
[22] Ibid,………………97.


Sumber: http://abadisaada.blogspot.com/2011/01/ubudiyah-dalam-dunia-tasawuf.html

Sabtu, 29 Agustus 2015

Menyinarkan Hati Dengan Melanggengkan Dzikir



Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata: “Para guru tarekat sufi sudah tidak mampu lagi menemukan obat yang lebih cepat menyinarkan hati sang murid selain melanggengkan dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla. Maka orang yang selalu berdzikir kepada Allah ibarat orang yang memengkilapkan tembaga yang berkarat dengan pasir, sementara orang yang melakukan ibadah tapi tidak selalu berdzikir kepada Allah ibarat orang yang memengkilapkan tembaga dengan sabun. Orang ini sekalipun berusaha memengkilapkan tembaga yang berkarat dengan sabun, tapi ia butuh waktu yang cukup lama dan itu pun tidak bisa mengkilap seperti tembaga yang digosok dengan pasir atau debu.”

Rabu, 26 Agustus 2015

Keistimewaan Tasbih dan Sholat Tasbih



Jika manusia tak mau bertasbih, tunduk dan taat kepada Allah, maka hakikatnya seekor semut lebih mulia darinya. Karena semut dan segala sesuatu yang ada di alam raya ini senantiasa bertasbih kepada Allah, tanpa henti. Matahari, bulan, bintang, hewan, tumbuh-tumbuhan, burung, katak, pohon, guruh, batu, kerikil, gunung, benda hidup maupun benda mati di alam semesta ini selalu tunduk, bersujud dan bertasbih kepada Allah dengan memuji-Nya. Allah telah menegaskan, “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”(Al-Isra'[17]: 44).
Tasbih berasal dari kata سَبَحَ - sabaha, yang artinya ‘menjauh’. Ber-tasbih dalam pengertian syariat artinya ‘menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan dan kejelekan’.

Dengan begitu, ketika kita bertasbih, maka kita menunjukkan keluarbiasaan Allah dalam segala hal, tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Ada 7 surat yang dimulai dengan ucapan tasbih: Surat al-Isra’ (17:1), Surat al-Hadid (57:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat as-Shaf (61:1), Surat at-Taghabun (64:1), Surat al-A’la (8:1).

Dalam al-Quran, banyak perintah agar kita ber-tasbih kepada Allah swt dalam segala keadaan. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut :
Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang (Thoha/20: 130)
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu akan berdiri (at-Thur/52: 48)
Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (al-Mu’min/40: 55)

KEISTIMEWAAN TASBIH


1. KALIMAT YANG DIPILIH OLEH ALLAH SWT
Suatu kali Rasulullah ditanya apakah ucapan yang paling unggul? Rasulullah menjawab,
مَا اصْطَفَى اللهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
‘Yang dipilih Allah swt terhadap para malaikat-Nya dan hamba-Nya adalah ucapan: Subhanallahi wa bihamdihi’ (Riwayat Muslim)

2. MEMBERATKAN TIMBANGAN AMAL
Rasulullah bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Ada dua kalimat yang keduanya ringan diucapkan di lidah namun memberatkan timbangan amal dan keduanya disukai oleh ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi wa bi hamdihi subhanallahil azhim’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

3. MENGHAPUS DOSA YANG BANYAK 

Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahi wa bi hamdihi 100X maka Allah dihapuskan kesalahan meskipun kesalahannya itu sebanyak buih lautan’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
4. PUNYA PERKEBUNAN KURMA DI SURGA

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِى الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahil azhimi wa bi hamdihi, maka ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga’ (Riwayat at-Tirmidzi)
5. TERHINDAR DARI KESEDIHAN DAN PENYAKIT-PENYAKIT BERAT

Suatu kali Qabishah al-Makhariq mendatangi Rasulullah dan berkata, 
Wahai Rasulullah, ajarkan aku beberapa kalimat (ucapan) yang dengannya Allah memberi manfaat kepadaku, karena sungguh umurku sudah tua dan aku merasa lemah untuk melakukan apapun’. Lalu Rasulullah berkata, ‘Adapun untuk duniamu, maka ketika engkau selesai shalat Shubuh, maka ucapkanlah tiga kali:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Jika engkau membacanya, maka engkau terhindar dari kesedihan, kusta (lepra), penyakit biasa, belang, lumpuh akibat pendarahan otak (stroke)…’ (Riwayat Ibnu as-Sunni dan Ahmad)
6. AMALAN YANG DISUKAI ALLAH SWT

سُبْحَانَ اللَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ 
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR
Amalan yang disukai Allah "Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar" Allah berfirman dalam al-Quran: ”Hai orang-orang yang beriman! berzikirlah (mengingat) kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (al-Ahzaab: 41-42).
Hadith yang membicarakan keutamaan zikir "Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar"
1. Rasulullah saw. bersabda, "Lazimkan membaca subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akhbar, kerana semua itu dapat menghapuskan dosa sebagaimana gugurnya daun dari pohon". (HR Ibnu Majah)
2. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w. berkata : "Membaca Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar lebih aku sukai daripada seisi dunia." (Hadith Riwayat Muslim)
3. Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).
4. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari." (HR. Muslim no. 2695). Al Munawi rahimahullah mengatakan, “Segala sesuatu yang dikatakan antara langit dan bumi, atau dikatakan lebih baik dari sesuatu yang terkena sinar matahari atau tenggelamnya, ini adalah ungkapan yang menggambarkan dunia dan seisinya.” Dari sini menunjukkan bahwa keempat kalimat tersebut lebih baik daripada dunia seisinya.
5. Dari Ummi Hani' binti Abu Thalib dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk." Beliau bersabda:
"Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma'il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali."
6. Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: "Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu." (HR. Ahmad 6/344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shilsilah Ash Shohihah no. 1316)
7. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)
8. Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata, Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda, "Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
9. Dari Abu Sa'id Al Khudri dan Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih empat perkataan: subhanallah (Maha suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan laa ilaaha illa allah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan Allahu akbar (Allah maha besar). Barangsiapa mengucapkan subhaanallah, maka Allah akan menulis dua puluh kebaikan baginya dan menggugurkan dua puluh dosa darinya, dan barangsiapa mengucapkan Allahu Akbar, maka Allah akan menulis seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan laa Ilaaha illallah, maka akan seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin dari relung hatinya maka Allah akan menulis tiga puluh kebaikan untuknya dan digugurkan tiga puluh dosa darinya." (HR. Ahmad 2/302. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya shahih).
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk istiqomah mengamalkan zikir “Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar” dalam kehidupan seharian kita. Insya allah.

7. SENJATA MENGHADAPI PERSOALAN BESAR
Diriwayatkan dari Abu Hurayrah, bahwa jika Rasulullah menghadapi persoalan penting, maka beliau mengangkat kepalanya ke langit sambil mengucapkan: Subhanallahil azhim, dan jika beliau bersungguh-sungguh dalam berdoa, maka beliau mengucapkan: Ya hayyu ya qoyyum (Riwayat at-Tirmidzi)
8. SENJATA MEGHADAPI KRISI PANGAN

Rasulullah bersabda,

طَعَامُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي زَمَنِ الدَّجَّالِ طَعَامُ الْمَلاَئِكَةِ: التَّسْبِيْحُ وَالتَّقْدِيْسُ، فَمَنْ كَانَ مَنْطِقُهُ يَوْمِئِذٍ التَّسْبِيْحَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُ الْجُوْعَ
‘Makanan orang beriman pada zaman munculnya Dajjal adalah makanan para malaikat, yaitu tasbih dan taqdis. Maka barangsiapa yang ucapannya pada saat itu adalah tasbih, maka Allah akan menghilangkan darinya kelaparan’ (Riwayat al-Hakim)

SHALAT TASBIH & KEISTIMEWAANNYA 

Melakukan shalat tasbih bukan perbuatan bid’ah. Shalat Tasbih termasuk kebiasaan orang-orang shalih. Abdullah bin Mubarok dan generasi sesudahnya selalu melakukannya.

Kata Syaikh Ali al-Khawwash, ‘Sebaiknya shalat tasbih dilakukan sebelum shalat hajat, karena shalat tasbih ini menghapus dosa-dosa, dengan demikian menjadi sebab terkabulnya hajat’.

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ إِبْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ لِعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: يَا أَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ، أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أَمْنَحُكَ؟ أَلاَ أَحْبُوْكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَحِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ، سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ، عَشْرَ حِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً، لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً - رواه أبو داود وأبن ماجه وإبن خزيمة والطبراني
Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, ‘Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau aku beri sesuatu? Maukah engkau aku anugerahkan sesuatu? Maukah engkau aku berikan hadiah? Yaitu sepuluh keutamaan, yang jika engkau melakukannya, Allah mengampuni dosamu: dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan. Sepuluh keutamaan itu engkau dapatkan dengan cara engkau lakukan shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca al-Fatihah dan satu surat (dari al-Qur’an). Jika engkau telah selesai membaca al-Fatihan dan surat pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, maka engka baca kalimat SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, lalu engkau ucapkan kalimat tadi sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau sujud, ketika sujud engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu (dan duduk istirahat sebentar), maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Maka jumlah kalimat itu 75 kali pada setiap satu rakaat. Engkau lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Jika engkau mampu melakukannya (shalat) itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak mampu melakukannya setiap hari, maka (lakukan) setiap minggu sekali! Jika engkau tidak mampu melakukannya setiap minggu, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) setiap tahun sekali! Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) sekali seumur hidupmu’. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, 1297; Ibnu Majah, 1387; Ibnu Khuzaimah, 1216; al-Hakim dalam al-Mustadrak, 1233; al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, 3/51-52, dan lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam, dari Abu Syu’aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sanad ini berderajat hasan) 
*Shalat tasbih bisa dilakukan siang hari, bisa juga malam hari. Jika dilakukan siang hari, maka langsung 4 rakaat dengan satu salam. Jika malam hari, maka dilakukan 2 rakaat 2 rakaat dengan 2 kali salam.

*bangaziem.wordpress.com & sumber lainnya