Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2015

Jenis-Jenis Gangguan Setan Dalam Perkara Sholat



Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al A’raf: 16-17).
Semua ditempuh demi satu ambisi yaitu mencari sebanyak-banyaknya teman di neraka kelak. Strategi yang ditempuh pun bisa berbeda-beda untuk tiap orang namun tujuan akhir tetaplah sama. Untuk pemimpin dan penjabat digunakanlah umpan korupsi dan khianat. Untuk ulama, da’i, penceramah, dipakai muslihat ujub, bangga diri, sombong, serta memanfaatkan keluguan umat untuk mengambil manfaat duniawi. Semua itu tentu saja sebelumnya telah ditanamkan penyakit Wahn, yaitu cinta dunia, takut mati, yang menjadikan materialisme dan hedonisme sebagai gaya hidup.

Sedangkan untuk orang-orang yang rajin beribadah jangan dikira setan berhenti dan frustasi, setan masih bisa masuk dengan cara merusak amal ibadah tersebut, bisa dari awal sebelum ibadah dimulai dilanjutkan ketika ibadah berlangsung dan setelah ibadah itu ditunaikan. Sebagai contoh, hilangnya konsentrasi ketika shalat merupakan fenomena yang sering menimpa kita. Secara fisk tampak sedang melaksanakan shalat, tapi pikiran menerang kemana-mana. Sehingga sering kali lupa bacaan atau gerakan shalat.

Setan menggoda manusia itu tidak saja. Di klub malam atau diskotik termasuk ketika kita di masjid sedang bermunajat dan tentunya shalat yang menjadi kewajiban seorang muslim pun tak luput dari bidikan setan. Apa sajakah bentuk gangguan setan dalam shalat?

Shalat menjadi incaran utama setan karena shalat merupakan tiang agama. Shalat merupakan rukun Islam kedua sekaligus sebagai pembuktian pernyataan tauhid Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah. Seorang mukmin yang mengerjakan shalat dengan sempurna akan menjadi momok menakutkan bagi setan sebab shalat akan menjadi pangkal dari segala kebaikan dan menjauhkannya dari perbuatan keji dan mungkar.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut: 45).
Abul Aliyah seorang ulama Tabi’in mengatakan bahwa shalat mengandung tiga unsur, yaitu ikhlas, khusyu, dzikir kepada Allah. Jika salah satu unsur ini hilang maka tidak layak disebut shalat. Ikhlas menjadikan seseorang tunduk kepada kebaikan, sedangkan khusyu menjadikannya menjauhi yang mungkar dan dzikirrullah menjadi pedomannya mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah.

Melihat begitu pentingnya ibadah dikalkulasi pada hari Kiamat kelak karena ia merupakan barometer dari amal ibadah lainnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Yang pertama kali ditanyakan seorang hamba pada hari kiamat adalah perhatian kepada shalatnya. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung, dan jika shalatnya rusak, dia akan gagal dan merugi.” (HR. Ath Thabrani)
Shalat juga merupakan amalan yang terakhir hilang dari umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selama masih ada orang yang shalat artinya eksistensi umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam masih terjaga. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Tali-tali Islam akan lepas sehelai demi sehelai. Setiap kali sehelai itu lepas, umat manusia akan berpegangan pada tali berikutnya. Yang pertama kali terlepas adalah hukum dan yang paling terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)
Melihat keutamaan shalat tersebut maka tidak mengeherankan jika setan berupaya keras untuk merusak shalat kita dan membuat orang beriman lemah karena shalat yang tidak berkualitas.

Dalam melihat interaksi manusia terhadap shalat, Ibnu Qayyim membagi manusia ke dalam beberapa tingkatan.
  1. Pertama, mereka yang lalai dan zalim terhadap dirinya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan shalat tapi dengan banyak kekurangan, tidak memenuhi syarat dan rukunnya secara sempurna, wudhu yang tergesa-gesa, suka menunda-nunda shalat bahkan sampai melewati waktu yang telah ditentukan.
  2. Tingkatan selanjutnya adalah mereka yang mengerjakan shalat yang memenuhi syarat dan rukunnya tapi tidak dengan jiwa dan ruhnya. Kelompok ini mengerjakan shalat hanya sebatas aktifitas fisik semata, mereka gagal melawan pengaruh setan yang mempengaruhi pikiran dan jiwa mereka dalam shalat.
  3. Tingkatan ketiga adalah mereka yang shalat dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya dengan baik, disamping itu mereka juga berupaya melawan bisikan setan yang mencoba memalingkan hatinya dari shalat.
  4. Sedangkan keempat adalah mereka yang menunaikan seluruh hak shalatnya dengan benar, seluruh pikiran dan konsentrasinya tertuju kepada shalat dan tingkat yang paling tinggi adalah mereka yang mendirikan shalat dengan menghadirkan hatinya di hadapan Allah, seakan-akan ia melihat Allah dengan mata hatinya, ia merasa diawasi oleh Allah SWT, hatinya pun dipenuhi rasa cinta kepada-Nya, semua bisikan setan dan hawa nafsu telah hilang dan sirna darinya. Dinding pembatas atas dirinya dan Rabb-Nya telah diangkat ketika shalat. Shalat orang seperti ini jauh lebih agung dan lebih baik dari segala yang ada di antara langit dan bumi.

3 diantara jenis-jenis golongan para musholi atau pelaku sholat dalam Al-Quran:
  1. Golongan Khasyi’un : Golongan khasyi’un (adalah mereka yang mendirikan shalat dengan sungguh-sungguh (khusyu’), mengetahui ilmu shalat, ikhlas dalam mendirikannya, menjadikan shalat sebagai kebutuhan, serta merealisasikan apa yang diucapkannya dalam shalat dalam kehidupan sehari-hari. Shalat golongan ini berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).
  2. Golongan Sahun : Golongan Sahun (QS. 107:5) adalah mereka yang melakukan shalat dengan lalai, sering (atau sengaja) lupa karena tidak merasakannya sebagai kebutuhan, dan menganggap shalat sebagai beban.
  3. Golongan Yuraun : Golongan yuraa’un (QS. 107: 6) adalah mereka yang melakukan shalat dengan niat yang tidak ikhlas, ibadah shalatnya ternodai perasaan atau keinginan dipuji atau dilihat orang lain, motivasi shalatnya bukan kesadaran.

Adzan memiliki makna yang luar biasa, mulai dari ungkapan akan kebesaran Allah kemudian syahadat kepada Allah dan Rasulnya hingga ajakan untuk shalat dan kemenangan. Maka tak heran begitu mendengar suara adzan, setan akan lari ketakutan. Akan tetapi begitu selesai adzan dan iqomat, ia akan kembali untuk menggoda dan mengganggu orang yang sedang shalat sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,
“Apabila dikumandangkan adzan shalat, setan akan berlari seraya terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila muadzin telah selesai adzan ia kembali lagi. Dan jika iqamat dikumandangkan ia berlari. Apabila telah selesai iqamat, ia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang yang shalat seraya berkata kepadanya, ingatlah apa yang tadinya tidak kamu ingat! Sehingga orang tersebut tidak tahu berapa rakaat ia shalat”. (HR. Bukhari).
DIPALINGKAN NIATNYA DAN MENUNDA-NUNDA SHALAT
Gangguan setan terhadap orang yang shalat sesungguhnya telah dimulai saat ia akan berniat shalat. Setan akan berusaha membuatnya menunda shalat sehingga akan luput keutamaan shalat di awal waktu. Bukan hanya itu, setan juga akan mencari celah untuk memalingkan niatnya, yang tadinya karena Allah menjadi karena calon mertua, atau cari perhatian atasan, atau supaya dianggap orang shaleh dan lainnya sebagainya yang telah tercemar riya dan sum’ah.

WAS-WAS TENTANG SUDAH SYAH ATAU BATALNYA WUDHU
Perasaan was-was dan keraguan adalah salah satu senjata setan dan senjata ini diantaranya digunakan saat seseorang ingin berwudhu untuk shalat. Salah satu syarat syahnya shalat adalah suci dari hadas kecil dan besar. Gangguan setan pada wudhu biasanya muncul dalam bentuk keraguan. Apakah sudah semua anggota wudhu sudah saya cuci, apakah ada bagian yang belum kena, sehingga diulang-lagi diulang-lagi sampai lebih dari tiga kali. Sehingga bukannya mendapatkan keutamaan sunnah yang ada malah mubazir. Atau kadang ada kalanya gangguan tersebut muncul dalam bentuk meremehkan amalan wudhu, sehingga wudhu hanya dilakukan sambil lalu dan tergesa-gesa. Seringkali bagian-bagian tubuh tidak dibasuh dengan sempurna. Membasuh muka tidak sampai batas muka, membasuh tangan tidak sampai membasahi siku, atau membasahi mata kaki kurang dari mata kaki. Kegagalan dalam menyempurnakan wudhu merupakan salah satu dari target setan dalam merusak shalat seorang mukmin.

MERUSAK NIAT TAKBIRATUL IKHRAM
Gangguan setan berlanjut ketika seseorang memasuki shalat, setelah sebelumnya setan mencoba mempengaruhi niatnya target berikutnya adalah merusak takbiratul ihram, setan membisikkan keraguan dalam hatinya sehingga ia merasa khawatir, apakah takhbiratul ikhram yang dilakukannya itu sudah syah atau belum?
“Apabila salah seorang dari kalian bimbang atas apa yang dirasakan di perutnya apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia yakin telah mendengar suara atau mencium baunya.” (HR. Muslim)
Para ulama mengatakan inti dari hadist adalah keyakinan yang pasti sehingga menghilangkan was-was dan keraguan. Sehubungan dengan perasaan was-was ini, Ibnu Qayyim berkata, termasuk tipu daya daya setan yang banyak mengganggu mereka adalah was-was dalam berwudhu dan niat atau saat takhbiratul ikhram dalam shalat. Was-was itu membuat mereka tersiksa dan tidak nyaman.

INGAT HAL LAIN DILUAR SHOLAT, LUPA RAKAAT DAN BACAAN
Bentuk gangguan setan yang lain terhadap orang yang shalat adalah dengan menimbulkan pikiran-pikiran tentang urusan lain di luar shalat, entah tentang barangnya yang hilang, kegiatannya tadi sebelum shalat, kadang bukan hanya bacaan shalat yang lupa tapi juga lupa jumlah rakaat yang sedang ia kerjakan. Ia tidak tahu berada di rakaat ke berapa dan berapa rakaat lagi yang harus diselesaikan. Solusi dari kondisi jika seorang mukmin ditimpa gangguan setan seperti ini adalah melakukan sujud syahwi, merupakan sujud yang dilakukan ketika seseorang lupa jumlah rakaat atau lupa rukun dan wajib shalat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Jika salah seorang dari kalian shalat, setan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah kerjakan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan gangguan yang menyebabkan lupa bacaan maka segera membaca ta’awudz atau A’uudzu billaahi minas-syaitaanirrajiim kemudian meludah ke kiri tiga kali. Hal ini pernah dialami oleh salah sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengadukan hal tersebut kepadanya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bersabda,
“Itulah setan yang disebut dengan khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah. Aku pun melakukan hal itu dan Allah SWT menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim)
TEBURU-BURU
Shalat yang dilakukan dengan terburu-buru akan kehilangan tuma’ninah atau ketenangan yang merupakan salah satu dari rukun shalat. Dan hilangnya salah satu rukun akan mengakibatkan shalat yang dilakukan akan sia-sia. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendapatkan orang yang shalat dengan cara seperti ini. Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memerintahkannya untuk mengulangi lagi shalatnya sampai kemudian bacaan dan gerakannya dilakukan dengan sempurna.

Shalat yang dilakukan dengan penuh ketenangan dan kekhusyuan akan memberikan manfaat yang sangat banyak bagi seorang hamba baik rohani mapun jasmani. Tentang ketenangan dalam shalat ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“Apabila kamu shalat, bertakbirlah, lalu bacalah dari Al-Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’ sampai kamu benar-benar ruku’, lalu bangkitlah dari ruku’ sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat shalatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Shalat adalah ibadah khusus yang terdiri dari bacaan dan gerakkan tertentu, ketika shalat seseorang dilarang melakukan kegiatan lain diluar gerakan dan bacaan shalat, seperti menggerakkan tangan, kaki atau anggota tubuh lainnya yang bukan gerakkan shalat atau menoleh ke kanan ke kiri atau mendongak ke atas. Semua gerakkan tersebut dalam merusak bahkan membatalkan shalat. Oleh sebab itu setan berupaya keras untuk menggoda dan mengganggu orang yang sedang shalat sehingga sibuk dengan pakaiannya atau sibuk mengamati dinding atau langit ruangan tempat ia shalat.

Pada masa sahabat ada seorang sahabat yang bermain kerikil ketika sedang tasyahud, ia membolak balikannya. Melihat hal itu maka Ibnu Umar segera menegurnya selepas shalat, “Jangan bermain kerikil ketika shalat karena perbuatan tersebut berasal dari setan. Tapi kerjakan seperti apa yang dikerjakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam”. Orang tersebut bertanya, ‘Apa yang dilakukannya?’. Kemudian Ibnu Umar meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat atau tempat sujud. “Demikianlah saya melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Ucap Ibnu Umar.

Terkadang dengan sadar atau tidak, perhatian kita ketika shalat terpalingkan dengan menoleh ke kiri atau ke kanan, itulah salah satu akibat dari gangguan setan. Karena itu setelah takbiratul ihram, pusatkan pandangan pada satu titik, yaitu tempat sujud sehingga perhatian kita menjadi fokus tidak mudah dicuri oleh setan.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hukum menoleh ketika shalat”. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Itu adalah curian setan atas shalat seorang hamba”. (HR. Bukhari).

MENGUAP DAN BERSIN
Mengantuk dan menguap juga merupakan bagian dari gangguan setan terhadap orang yang shalat. Menguap bukanlah gerakan shalat shingga selama shalat orang tersebut sibuk menahan kantuknya dengan menguap sebisa mungkin ditahan ketika shalat sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Adapun menguap itu datangnya dari setan, maka hendaklah seseorang mencegahnya selagi bisa. Apabila ia berkata ha…berarti setan tertawa dalam mulutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain menguap, bersin juga menjadi pintu masuk setan untuk merusak shalat kita. Bersin memang pertanda adanya gangguan kesehatan tapi setan juga mempergunakannya untuk mengganggu shalat. Sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abdullah bin Mas’ud mengatakan menguap dan bersin dalam shalat itu dari setan. Ibnu Hajar mengomentari perkataan Abdullah bin Mas’ud, bersin yang tidak disenangi oleh Allah adalah yang terjadi dalam shalat, berbeda dengan yang diluar shalat. Hal itu tidak lain karena setan memang ingin mengganggu shalat seseorang dengan berbagai cara.

ENGGAN MENAMBAH ILMU TENTANG SHOLAT
Godaan setan lain ketika shalat adalah merasa cukup dengan apa yang diketahui, enggan untuk belajar menambah ilmu demi kesempurnaan shalat padahal pengetahuan yang dimiliki masih jauh dari cukup. Sebaliknya, jika berkaitan dengan pekerjaan atau karir sangat bersemangat belajar dan ikut pelatihan kesana dan kemari.

Shalat adalah rukun Islam kedua. Mempelajari segala hal yang terkait dengan keabsahan dan kesempurnaan shalat, hukumnya adalah wajib. Jangan sampai kita enggan dan malas untuk menambah ilmu tentang shalat yang akan menjamin keselamatan kita di dunia dan di akhirat.

CARA MENGHADAPI TIPU DAYA SETAN
Untuk menjauhkan diri dari gangguan setan, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan. Mengetahui bentuk tipu daya setan yang menjerumuskan manusia dalam dosa, seperti menanamkan rasa takut dalam hati orang beriman, memanipulasi akal manusia, menjadikan manusia cinta dunia. Dengan memahami dan mengetahui tipu daya setan, menjadikan kita jadi lebih waspada.

Berikutnya mempersiapkan diri dengan baik ketika kita akan shalat. Persiapan meliputi persiapan pengetahuan tentang shalat, mulai dari syarat wajib shalat, rukun-rukunnya, bacaan dan gerakan shalat yang benar. Termasuk di dalamnya adalah wudhu, karena wudhu merupakan pintu gerbang menuju shalat. Syah atau tidaknya shalat bergantung pada syah atau tidaknya wudhu. Dengan adanya pengetahuan yang benar, maka akan membawa pada amal yang benar. Kemudian menjaga keikhlasan. Ikhlas merupakan senjata ampuh seorang mukmin yang paling ditakuti setan. Hal ini diakui sendiri oleh Iblis seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tuangkan dalam firman-Nya,
“Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 39-40).
Dan tentu saja adalah berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk. Setan begitu dekat dengan kita, ia mampu mellihat kita, mampu menggoda dan memberikan bisikkan jahat kepada kita.
Satu-satunya cara yang paling ampuh adalah dengan meminta perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua tipu daya dan kekuatan setan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lemah.

Setan selalu berupaya untuk menyesatkan manusia. Ketika seseorang dalam dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tak luput dari gangguan setan. Oleh sebab itu, marilah kita perkuat niat kita gara tidak bisa diganggu oleh setan. Dan jangan lupa selalu meminta perlindunga kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala tipu daya setan. Semoga shalat kita menjadi semakin berkualitas dan kita dijauhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk, baik ketika shalat maupun diluar shalat.

Senin, 14 September 2015

Sujud Syukur


Sujud Syukur adalah sujud sunah yang dilakukan oleh seseorang ketika baru mendapatkan nikmat atau hal-hal yang menyenangkan semisal mendapatkan kemudahan rizqi, harta atas deal bisnis yang sedang dinantikan sudah goal, mendapat bonus dari perusahaan (bukan karena suap), memenangkan suatu kompetisi (yang halal pastinya), kelahiran anak, terhindar dari kecelakaan, marabahaya atau jenis bencana lainnya.

Dalam prakteknya sujud syukur sering dilakukan secara spontan, atas dorongan diri untuk lebih bersyukur atas karunia yang baru saja diterima dari Allah Ta'ala.

Kenapa dikatakan lebih bersyukur? Karena kita sebagai muslim pasti menyadari bahwa setiap yang ada dan diberikan oleh Allah Ta'ala dalam kehidupan kita adalah nikmat.

Sepeti nafas yang tak putus-putus sampai waktu ajal datang, kesehatan, rejeki, kemudahan-kemudahan lain yang tak terhingga bila dihitung-hitung. Dan dengan kita taat melakukan perintah-Nya baik dalam bentuk ibadah syariat maupun secara muamalah, sekaligus menjauhi larang-larangan-Nya merupakan manifestasi rasa syukur kita.

Dan sujud syukur yang satu ini adalah praktek riil kita yang lain untuk menambah dosis bersyukur kita kepada sang Khalik.

Berikut hadists-hadits yang meriwayatkan tetang sujud syukur:

1. Diriwayatkan dari Abu Bakrah bahwa Nabi saw. apabila mendapatkan sesuatu yang disenangi atau diberi kabar gembira, segeralah tunduk bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah swt.[1].

2. Baihaqi meriwayatkan dengan sanad menurut syarat Bukhari: "Bahwa Ali r.a. ketika menulis surat kepada Nabi saw. untuk memberitahukan masuk Islamnya Suku Hamdzan, beliau pun sujud dan setelah mengangkat kepalanya terus bersabda: 'Selamat sejahtera atas Suku Hamdzan! Selamat sejahtera atas Suku Hamdzan'!"

3. Dari Abdurrahman bin 'Auf: "Bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari keluar dan saya mengikutinya sampai kami tiba di Nakhl. Beliau lalu sujud dan lama sekali sujudnya itu hingga saya takut kalau-kalau Allah akan mendatangkan ajalnya di sana. Saya lalu datang mendapatkannya, tiba-tiba beliau mengankat kepala dan bertanya: 'Mengapa wahai Abdurrahman?' Saya menceritakan perasaan saya tadi, maka beliau pun bersabda:'Sesungguhnya Jibril a.s. datang kepadaku tadi dan berkata:

إِنِّي لَقِيتُ جَبْرَائِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ فَبَشَّرَنِي وَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ، يَقُولُ: مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ، وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَسَجَدْتُ لِلَّهِ شُكْرًا ' 

Sukakah Anda kuberi kabar gembira ? Sesungguhnya Allah berfirman kepada Anda: Barang siapa membacakan shalawat padamu, maka Aku akan memberinya rahmat. Dan berang siapa membacakan salam kepadamu, maka Aku akan memberinya keselamatan. Oleh karena itu saya sujud sebagai tanda syukur kepada Allah Ta'ala. [2].

4. Hakim juga meriwayatkan hadits seperti ini dan mengatakan: "Hadits ini sah menurut syarat Bukhari dan Muslim, dan dalam soal sujud syukur ini, belum pernah saya jumpai sebuah hadits yang lebih sah dari ini."

5. Bukhari meriwayatkan bahwa ka'ab bin Malik melakukan sujud syukur ketika menerima berita bahwa tobatnya diterima Allah.

6. Ahmad mengatakan bahwa Ali r.a. juga sujud ketika menemukan mayat Dzats-Tsudaiyan diantara orang-orang Khawarij yang tewas dalam peperangan dengannya.

7. Sa'ad bin Manshur juga menyebutkan bahwa Abu Bakar melakukan sujud syukur ketika mendengar kematian Musailimah, yakni Nabi palsu.

----------
Syarat -syarat :
  • Dilakukan diluar sholat. 
  • Suci dari hadats dan najis baik pakaian, tempat maupun badan. 
  • Menutup aurat. 
  • Menghadap kiblat 
Tata cara sujud syukur :

1. Niat melakukan sujud syukur bersamaan dengan takbirotulihrom sambil mengangkat kedua tangan sebagaimana takbirotul ihrom ketika sholat, hanya saja dilakukan tanpa berdiri. Niatnya adalah sebagai berikut ;
نويت سجدة الشكر لله تعالى
NAWAITU SAJDATASYSYUKRI LILLAHI TA'AALAA
Saya niat sujud syukur karena Alloh Ta'ala
2. Takbir untuk melakukan sujud (sebelum sujud) tanpa mengangkat kedua tangan.

3. Melakukan sujud satu kali, dan ketika sujud boleh membaca do'a seperti do'a ketika sujud dalam sholat atau do'a lainnya (Subhaana robbi'al a'alaa wabihamdihi ..)

4. Bangun dari sujud, sambil membaca takbir tanpa mengangkat kedua tangan.

5. Salam.
----------

Informasi lain seputar sujud syukur :
  • Suci lebih afdhal. Sujud syukur itu juga memerlukan syarat-syarat sebagai syarat-syarat shalat, tetapi ada pula ulama yang berpendapat bahwa syarat-syarat itu tidak diperlukan sebab memang bukan termasuk dalam shalat. Dalam kitab Fat-hul 'Allam disebutkan bahwa pendapat kedua inilah yang lebih tepat. Syaukani berkata: "Dalam sujud Syukur tidak terdapat sebuah hadits pun yang menjelaskan bahwa untuk melakukannya itu disyaratkan berwudhu, suci pakaian dan tempat." 
  • Takbir diperlukan (?) . imam Yahya dan Abu Thalib. berpendapat bahwa tidak terdapat keterangan dari Nabi saw. yang menjelaskan bahwa dalam sujud syukur itu diharuskan bertakbir, hanya saja disebutkan dalam kitab Bahr bahwa dalam sujud syukur itu takbir diperlukan. 
  • Tata caranya. Seperti sujud tilawah. Yaitu dengan sekali sujud. Ketika akan sujud hendaklah dalam keadaan suci, menghadap kiblat, lalu bertakbir, kemudian melakukan sekali sujud. Saat sujud, bacaan yang dibaca adalah seperti bacaan ketika sujud dalam shalat. Kemudian setelah itu bertakbir kembali dan mengangkat kepala. Setelah sujud tidak ada salam dan tidak ada tasyahud. 
  • Tidak di waktu shalat. Imam Yahya berkata bahwa sujud syukur dalam shalat tidak dibolehkan, dan memang tidak ada seorang ulama pun yang memperkenankannya, sebab tidak ada sangkut-pautnya sama sekali. 
  • Tidak untuk nikmat yang kontinyu. Sujud syukur tidak disunnahkan untuk nikmat yang terjadi terus menerus karena anugerah Allah tiada putusnya, seperti nikmat nafas, nikmat hidup, dan bisa merasakan nikmatnya shalat. Mungkin kita pernah melihat sebagian orang yang rutin melakukan sujud syukur setelah selesai dzikir atau ba'da shalat fardhu.Ulama Syafi’iyah dan ulama Hambali berpendapat, لا يشرع السّجود لاستمرار النّعم لأنّها لا تنقطع “Tidak disyari’atkan (disunnahkan) untuk sujud syukur karena mendapatkan nikmat yang sifatnya terus menerus yang tidak pernah terputus.” 
  • Jarak waktunya. Bagaimana Jika Luput dari Sujud Syukur? Ar Ramli rahimahullah mengatakan, وتفوت سجدة الشّكر بطول الفصل بينها وبين سببها “Sujud syukur itu jadi luput jika sudah berlalu waktu yang lama dengan waktu adanya sebab sujud.” Berarti sujud syukur dilakukan ketika mendapatkan nikmat atau selamat dari bencana (musibah), jangan sampai ada selang waktu yang lama. Allaahu a'lam. 

*Dari berbagai sumber

Kamis, 03 September 2015

Tentang Sholat Tahajjud


Qiyamul lail atau yang biasa disebut juga Sholat Tahajjud atau Sholat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia, yang disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah. Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Berat memang, karena memang tidak setiap muslim sanggup melakukannya. Andaikan Anda tahu keutamaan dan keindahannya, tentu Anda akan berlomba-lomba untuk menggapainya. Benarkah?
Banyak nash dalam Alquran dan Assunnah yang menerangkan keutamaan ibadah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama:
Barangsiapa menunaikannya, berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isro’:79)
Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: “At-Tahajjud adalah sholat di waktu malam sesudah bangun tidur. Adapun makna ayat “sebagai ibadah nafilah” yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu. Disebutkan bahwa sholat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai ibadah tathowwu’ (sunnah) bagi umat beliau.” ( lihat Zubdatut Tafsir, hal. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: 3/54-55)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sholat yang paling utama sesudah sholat fardhu adalah qiyamul lail (sholat di tengah malam).” (Muttafaqun ‘alaih).

Kedua :
Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 15-18).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, -ed) seandainya ia sholat di waktu malam.” (HR Muslim No. 2478 dan 2479). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan, ia kerjakan sholat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR Bukhari 3/31 dan Muslim 2/185).
Ketiga : 
Siapa yang menunaikan qiyamul lail itu, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan qiyamul lail, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal sholeh.

Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk sholat, maka beliau menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan: “Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): “Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.” Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan kemudian apabila ia sholat, terurailah simpul yang terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Jika tidak (yakni tidak bangun sholat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal shalih).” (Muttafaqun ‘alaih)

Keempat : 
Ketahuilah, di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya.

Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau: “Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.” (HR Muslim No. 757). Dalam riwayat lain juga disebutkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR Bukhari 3/25-26). Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar. (Tafsir Ibnu Katsir 3/54)

KESUNGGUHAN SALAFUS SHALIH UNTUK MENEGAKKAN QIYAMUL LAIL
Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu justru mulai bangun untuk shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur’an yang beliau baca dalam sholat lailnya seperti dengungan lebah, karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang yang ada disekitarnya, ed.), sampai menjelang fajar menyingsing.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya: “Mengapa orang-orang yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya?” Beliau menjawab: “Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha Rahman, maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya.”

Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang setia beribadah di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa adanya malam, sungguh aku tidak suka tinggal di dunia ini.”

Al-Imam Ibnu Al-Munkadir menyatakan : “Bagiku, kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, yakni qiyamul lail, bersilaturrahmi dan sholat berjamaah.”

Al-Imam Hasan Al-Bashri juga pernah menegaskan: “Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa, akan terhalang dari qiyamul lail.” Ada seseorang yang bertanya: “Aku tidak dapat bangun untuk untuk qiyamul lail, maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab : “Jangan engkau bermaksiat (berbuat dosa) kepada-Nya di waktu siang, niscaya Dia akan membangunkanmu di waktu malam.”(Tazkiyyatun Nufus, karya Dr Ahmad Farid)

Diatas beberapa keutamaan dan keindahan qiyamul lail. Sungguh, akan merasakan keindahannya bagi orang yang memang hatinya telah diberi taufik oleh Allah Ta’ala, dan tidak akan merasakan keindahannya bagi siapa pun yang dijauhkan dari taufik-Nya. Mudah-mudahan, kita semua termasuk diantara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan qiyamul lail secara istiqamah. Wallahu waliyyut taufiq.

KAIFIAT/CARA PELAKSANAANNYA

Qiyamul Lail di malam-malam selama bulan Ramadhan

Shalat tahajjud (kalau di bulan Ramadhan lebih dikenal dengan istilah tarawih) yang sesuai dengan sunnah adalah sebelas raka’at sebagaimana diterangkan dalam hadits ‘A`isyah:

مَا كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Nabi tidak pernah shalat malam baik di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at.” (HR. Al-Bukhariy no.1147 dan Muslim no.738)

Sebelas raka’at di sini termasuk di dalamnya shalat witir tiga raka’at yang bisa dilakukan dengan dua cara:
  • Shalat dua raka’at dan salam kemudian shalat satu raka’at atau cara yang kedua,
  • Shalat tiga raka’at sekaligus dengan satu tasyahud di raka’at ketiga kemudian salam.
Tapi cara pertama itulah yang lebih utama.

Dan dikerjakan dua-dua artinya setiap dua raka’at diakhiri salam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar, dia berkata: Seorang laki-laki berdiri lalu berkata: Ya Rasulullah, bagaimana (caranya) shalat malam? Rasulullah bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at, jika kamu takut masuk waktu shubuh maka witirlah satu raka’at.” (HR. Muslim no.749)

Sehingga shalat malam itu paling sedikit satu raka’at (yaitu shalat witirnya saja) dan paling banyaknya 11 raka’at. Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Nabi shalat 13 rakaat maka 2 raka’atnya itu adalah shalat ba’da ‘isya atau qabliyyah shubuh.

Dan paling utama dilakukan pada sepertiga malam akhir. (Lihat HR. Al-Bukhariy no.1131, 4569 dan Muslim no.1159)
Lebih detailnya bisa dilihat di dalam kitab Qiyaamu Ramadhaan atau Shalaatut Taraawiih karya Asy-Syaikh Al-Albaniy.
[Buletin AL Wala’ wal Bara’ Edisi ke-49 Tahun ke-2 / 29 Oktober 2004 M / 15 Ramadhan 1425 H]


Kaifiat Qiyamul Lail (Shalat Malam) di luar malam-malam bulan Ramadhan

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا.

فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat (lail) baik di dalam bulan ramadhan maupun di luar ramadhan tidak pernah lebih dari 11 rakaat. Beliau memulai dengan mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Setelah itu beliau kembali mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.”

Aisyah berkata: Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku memang tidur namun hatiku tidak.”(HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Al-Bukhari no. 1131)

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari untuk menunaikan shalat malam, biasanya beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim no. 767)

WAKTU SHALAT LAIL
Awal waktu shalat lail adalah setelah shalat isya dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar kedua. Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat isya sampai subuh.” (HR. Muslim no. 736) Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Karenanya Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119, “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua) adalah waktu untuk mengerjakan witir.”

Karenanya jika ada orang yang shalat maghrib-isya dengan jama’ taqdim, maka dia sudah boleh mengerjakan shalat lail walaupun waktu isya belum masuk. Sebaliknya, walaupun sudah jam 10 malam tapi jika dia belum shalat isya, maka dia belum diperbolehkan shalat lail.

Hanya saja waktu yang paling ideal adalah dikerjakan selepas pertengahan malam, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr di atas.

JUMLAH RAKAATNYA
Shalat lail minimal 2 rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Hanya saja, walaupun dibolehkan mengerjakan shalat lail tanpa ada batasan rakaat (selama itu genap), akan tetapi sunnahnya dia hanya mengerjakan 8 rakaat (plus witir 3 rakaat) berdasarkan hadits Aisyah yang pertama di atas. Disunnahkan juga untuk mengerjakan 2 rakaat ringan sebelum shalat lail -berdasarkan hadits Aisyah yang terakhir di atas-, sehingga total rakaatnya adalah 13 rakaat.

BEBERAPA CARA/KAIFIYAT MELAKUKAN SHALAT TAHAJUD & WITIR

1). Sholat 13 raka’at dibuka dengan 2 raka’at ringan. Hal ini berdasarkan hadits hadits Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata :

“Sungguh saya akan memperhatikan sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka’at ringan kemudian beliau sholat dua raka’at panjang, panjang, panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka’at lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka’at dan keduanya lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka’at dan keduanya lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka’at dan keduanya lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka’at”.

Dan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata : “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau berdiri di malam hari untuk sholat maka beliau membuka sholatnya dengan dua raka’at yang ringan”

2). Sholat 13 raka’at, 8 raka’at diantaranya dilakukan dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 5 raka’at dengan satu kali tasyahhud dan satu kali salam.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Riwayat Muslim :

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at, beliau witir darinya dengan 5 (raka’at) tidaklah beliau duduk pada sesuatupun kecuali hanya pada akhirnya”


3). Sholat 11 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at dan witir dengan 1 raka’at. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata :

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya` sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka’at, Beliau salam setiap dua raka’at dan witir dengan satu raka’at”.

4).
Sholat 11 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan kemudian tasyahhud tanpa salam lalu berdiri untuk raka’at kesembilan kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan duduk.

Hal tersebut diterangkan dalam hadits Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir riwayat Muslim, beliau bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana sholat witir Rasulullah

shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, maka beliau menjelaskan :

“… Maka beliau bersiwak, berwudhu’ dan sholat 9 raka’at beliau tidak duduk kecuali pada yang kedelapan kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu berdiri dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri untuk kesembilan lalu duduk kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu beliau salam sengan (suara) salam yang beliau perdengarkan kepada kami kemudian beliau sholat dua raka’at setelah salam dalam keadaan duduk, maka itu 11 raka’at wahai anakku. Ketika Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah berumur dan beliau bertambah daging (Baca bertambah berat) maka beliau witir dengan 7 (raka’at) dan berbuat pada yang dua raka’at seperti perbuatan beliau yang pertama, maka itu adalah sembilam (raka’at) wahai anakku”

5). Sholat 9 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at keenam kemudian tasyahhud tanpa salam lalu berdiri untuk raka’at ketujuh kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan duduk.

Hal ini di terangkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Berkata Syaikh Al-Albany : “Ini adalah beberapa kaifiyat yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukannya pada sholat lail dan witir. Dan mungkin untuk ditambah dengan bentuk-bentuk yang lain, yaitu dengan mengurangi pada setiap bentuk yang tersebut jumlah raka’at yang ia kehendaki dan bahkan boleh baginya untuk membatasi dengan satu raka’at saja.”

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menyebutkan beberapa bentuk lain :

6). Sholat 13 raka’at, yaitu salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at.

7). Sholat 8 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian ditambah witir 1 raka’at.

8). Sholat 6 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 1 raka’at.

9). Sholat 7 raka’at, tidak tasyahhud kecuali pada yang keenam kemudian berdiri sebelum salam untuk raka’at ketujuh lalu duduk tasyahhud dan salam.

10). Sholat 7 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.

11). Sholat 5 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.

12). Sholat 3 raka’at, duduk tasyahhud pada raka’at kedua dan salam lalu witir 1 raka’at.

13). Sholat 3 raka’at tidak duduk tasyahhud dan salam kecuali pada raka’at terakhir 2.

14). Sholat witir satu raka’at.

Demikian beberapa kaifiyat yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 86-94 (Cet. Kedua) dan Qiyamu Ramadhan hal. 27-30 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 3/42-48. Dan Syaikh Al-Albany juga menyebutkan kaifiyat lain yaitu sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at.

Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka’at. Beliau sholat empat (raka’at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau sholat empat (raka’at)n jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka’at)”.

Namun ada perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang kaifiyat ini.

Pendapat Abu Hanifah, Ats-Tsaury dan Al-Hasan bin Hayy boleh melakukan Qiyamul Lail 2 raka’at sekaligus, boleh 4 raka’at sekaligus, boleh enam raka’at sekaligus dan boleh 8 raka’at sekaligus, tidak salam kecuali di akhirnya. Kelihatannya pendapat ini yang dipegang oleh Syaikh Al-Albany sehingga beliau menetapkan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at dengan sekali salam.

Dan disisi lain, jumhur Ulama seperti Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnul Mubarak, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Ibnul Mundzir serta yang lainnya menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar radhiyallahu ‘anhuma, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Asy-Sya’by, An-Nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Hammad dan Al-Auza’iy. Dan Ibnu ‘Abdil Barr berkata : “Ini adalah pendapat (Ulama) Hijaz dan sebahagian (Ulama) ‘Iraq.”, semuanya berpendapat bahwa sholat malam itu adalah dua raka’at-dua raka’at yaitu harus salam pada setiap dua raka’at. Ini pula pendapat yang dkuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz beserta para Syaikh anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah, dan juga pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lain-lainnya

Sehingga mereka semua menyalahkan orang yang memahami hadits ‘Aisyah di atas dengan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at, dan menurut mereka pemahaman yang benar adalah bahwa 4 raka’at dalam hadits itu adalah dikerjakan 2 raka’at 2 raka’at .

Tarjih
Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat Jumhur Ulama berdasarkan hadits hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa‘ala alihi wa sallam bersabda :

“Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)”

Hadits ini adalah berita namun bermakna perintah yaitu perintah untuk melakukan sholat malam dua dua raka’at. Demikian keterangan Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa beliau 11/323-324.

Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam : Al-Istidzkar 2/95-98, 104-106, Fathul Bari 4/191-198, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/199-200 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20.

Dan juga para Ulama berselisih pendapat tentang dua raka’at setelah witir pada kaifiyat no. 4 dan 5, ada tiga pendapat di kalangan ulama :

1. Sunnah dua raka’at setelah witir. Ini pendapat Katsir bin Dhomrah dan Khalid bin Ma’dan. Dan Al-Hasan dan Abu Mijlaz melakukannya, sedangkan Ibnu Rajab menukil hal tersebut dari sebahagian orang-orang Hanbaliyah.
2. Ada rukhshoh (keringanan) dalam hal tersebut dan bukan makruh. Ini adalah pendapat Al- Auza’iy, Ahmad dan Ibnul Mundzir.

3. Hal tersebut Makruh. Ini pendapat Qais bin ‘Ubadah, Malik dan Asy-Syafi’iy.

Tentunya dalil-dalil yang menjelaskan tentang kaifiyat itu adalah hujjah yang harus diterima tentang disyari’atkannya sholat dua raka’at setelah witir. Berkata Ibnu Taimiyah : “Dan kebanyakan Ahli Fiqh tidak mendengar tentang hadits ini (yaitu hadits tentang adanya dua raka’at setelah witir di atas,-pent.), kerena itu mereka mengingkarinya. Dan Ahmad dan selainnya mendengar (hadits) ini dan mengetahui keshohihannya dan Ahmad memberi keringanan untuk melakukan dua raka’at ini dan ia dalam keadaan duduk sebagaimana yang dikerjakan oleh (Nabi) shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa yang melakukan hal tersebut tidaklah diingkari, akan tetapi bukanlah wajib menurut kesepakatan (para Ulama) dan tidak dicela orang yang meniggalkannya….”

Baca : Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/92-94, Fathul Bari Ibnu Rajab 6/260-264 dan Al- Mughny 2/281.
1 Yaitu disaksikan oleh malaikat rahmat. Demikian keterangan Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim 6/34.
2 Tambahan dari penulis dan tidak tertera dalam Al-Muhalla.
3 Artinya : Maha suci Yang Maha berkuasa lagi Yang Maha suci.


BACAAN DALAM SHOLAT TAHAJUD

Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan hal. 23-25 : “Adapun bacaan dalam sholat lail pada Qiyam Ramadhan dan selainnya, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak menetapkan suatu batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui dengan bentuk tambahan maupun pengurangan. Kadang beliau membaca pada setiap raka’at sekadar “Ya Ayyuhal Muzzammil” dan ia (sejumlah) dua puluh ayat dan kadang sekadar lima puluh ayat. Dan beliau bersabda :

“Siapa yang sholat dalam semalam dengan seratus ayat maka TIDAKLAH ia terhitung dalam orang-orang yang lalai”

“… dengan dua ratus ayat maka sungguh ia terhitung dari orang-orang yang Qonit (Khusyu’, panjang sholatnya,-pent.) lagi Ikhlash”

Dan beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada suatu malam dan beliau dalam keadaan sakit membaca tujuh (surah) yang panjang, yaitu surah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa`, Al- Ma`idah, Al-An’am, Al-A’raf dan At-Taubah.

Dan dalam kisah sholat Hudzaifah bin Al-Yaman di belakang Nabi ‘Alaihish Sholatu was Salam bahwa beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca dalam satu raka’at Al-Baqarah kemudian An-Nisa’ kemudian Ali ‘Imran dan beliau membacanya lambat lagi pelan.

Dan telah tsabit (syah, tetap) dengan sanad yang paling shohih bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tatkala memerintah Ubay bin Ka’ab sholat mengimami manusia dengan sebelas raka’at dalam Ramadhan, maka Ubay radhiyallahu ‘anhu membaca dua ratus ayat sampai orang-orang yang di belakangnya bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan tidaklah mereka bubar kecuali pada awal-awal fajar.

Dan juga telah shohih dari ‘Umar bahwa beliau memanggil para pembaca Al-Qur`an di bulan Ramadhan kemudian beliau memerintah orang yang paling cepat bacaannya untuk membaca 30 ayat, orang yang pertengahan (bacaannya) 25 ayat dan orang yang lambat 20 ayat.

Dibangun di atas hal tersebut, maka kalau seseorang sholat sendirian disilahkan memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya, dan demikian pula bila ada yang sholat bersamanya dari kalangan orang yang sepakat dengannya (dalam memperpanjang,-pent.), dan semakin panjang maka itu lebih utama, akan tetapi jangan ia berlebihan dalam memperpanjang sampai menghidupkan seluruh malam kecuali kadang-kadang, dalam rangka mengikuti Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang bersabda :

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam)”

Dan apabila ia sholat sebagai imam maka hendaknya ia memperpanjang dengan sesuatu yang tidak memberatkan orang-orang di belakangnya, berdasarkan sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :

“Apabila salah seorang dari kalian Qiyam mengimami manusia maka hendaknya ia memperingan sholatnya karena pada mereka ada anak kecil, orang besar, pada mereka orang lemah, orang sakit dan orang yang mempunyai keperluaan. Dan apabila ia Qiyam sendiri maka hendaknya ia memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya”.”

Demikian keterangan Syaikh Al-Albany tentang bacaan pada Qiyamul lail, adapun dalam sholat witir, berikut ini beberapa hadits yang menjelaskannya, diantaranya adalah hadits Ubay bin Ka’ab riwayat Imam Ahmad dan lain-lainnya, beliau berkata :

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau salam, belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus”3 tiga kali.” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/160-161.)

Dan dalam hadits ‘Abdurrahman bin Abi Abza riwayat Ahmad dan lainnya, beliau berkata : “Sesungguhnya beliau membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau salam, belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus.” dan beliau mengangkat suaranya dengan itu .” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161.)

Berdasarkan dua hadits di atas, Ats-Tsaury, Ishaq dan Abu Hanifah menganggap sunnah membaca tiga surah di atas dalam sholat witir. Imam Malik dan Asy-Syafi’iy juga menganggap sunnah hal tersebut namun mereka dalam raka’at ketiga selain dari surah Al-Ikhlash juga menganggap sunnah menambahnya dengan surah Al-Falaq dan surah An-Nas. Namun hadits mengenai tambahan dua surah tersebut dianggap lemah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al- ‘Uqaily, karena itu seharusnya orang yang sholat witir tiga raka’at hanya terbatas dengan membaca surah Al-Ikhlash pada raka’at ketiga.

Syaikh Al-Albany dalam Sifat Sholat An-Nabi hal. 122 (Cet. Kedua Maktabah Al-Ma’arif) juga menshohihkan hadits bahwa membaca dalam raka’at witir dengan seratus ayat dari An-Nisa`.

(S)

Minggu, 30 Agustus 2015

6 Hal Yang Kerap Terlupa Dalam Menjalankan Sholat


Sebagai seorang muslim yang sudah melewati masa aqil baligh, kita semua pasti sudah terbiasa dengan salah satu ritual ibadah utama yaitu Sholat. Baik sholat fardlu maupun sholat sunnah lainnya.
Tidak dipungkiri walaupun sudah pasti sekian lama dan berulang-ulang melaksanakan kewajiban ibadah sholat dengan berbagai pegangan ilmu tentang hukum, rukun, syarat sholat,  namun karena suatu dan lain hal urusan yang manusiawi kita kerap kali lupa akan beberapa hal yang penting, yang walaupun secara hukumnya bukan termasuk rukun dan syarat shalat. 

Meskipun bukan masuk dalam rukun dan syarat shalat, namun jika diperhatikan dan semampunya dilaksanakan akan menjadikan aktivitas berinadah shalat lebih bernilai dari pada sekedar tuntutan syariah semata.

Pertama : Semangat
Semangat atau gairah menjalankan shalat ketika waktu telah tiba. Karena sejatinya Allah swt. tidak senang jika hambanya bermalas-malasan, apalagi bermalas-malasan dalam mengerjakan shalat. Sebagaimana firmanNya;
Inna almunaafiqiina yukhaadi'uuna allaaha wahuwa khaadi'uhum wa-idzaa qaamuu ilaa alshshalaati qaamuu kusaalaa yuraauuna alnnaasa walaa yadzkuruuna allaaha illaa qaliilaan [QS 4 - An Nisaa’ :142]

Arti : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya(dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
Allah swt sebagai Tuhan Penguasa Alam, Pemilik Jagad Raya seisinya, Pemberi Rahmat atas segala kehidupan di dunia, sangat berkuasa dan berhak untuk memanggil siapapun, kapanpun dan dimanapun juga.
Namun demikian, Allah swt hanya memanggil hambanya yang muslim melalui shalat lima kali dalam sehari. Maka, wajar jika Allah swt melaknat hambanya yang acuh tak-acuh dan tidak menghiraukan panggilanNya. 
Seperti halnya orang tua yang merasa jengkel kepada anaknya, jikalau anak itu tidak mengindahkan panggilannya. Tetapi Allah swt akan mengapresiasi siapapun hamba yang segera merespon panggilan Nya.

Kedua: Kosongkan Hati Dari Urusan Dunia
Untuk beberapa waktu sementara, hendaknya ketika shalat seseorang mengosongkan hati dari berbagai kesibukan keduniawian (faraghi qalbin). Karena shalat merupakan ruang perjumpaan hamda dengan Allah swt. 
Sudah seharusnya seorang hamba membawa serta hati dan kesadarannya menghadap Sang Tuhan Yang Maha Kuasa, dan beberapa saat meninggalkan urusan dunianya.

Jika diangan-angan, sesungguhnya perbandingan waktu 24 jam yang diberikan Allah swt. kepada manusia dalam sehari dan 5 menit kali lima kali sebagai waktu yang dihabiskan untuk shalat sangatlah kecil. Namun demikian kebanyakan manusia merasakan yang lima menit ini sangatlah berat sekali. Naudzubillahi mindzalik.

Ketiga: Khusyu'
Khusyu' , tempatnya di dalam hati. khusyu' bisa diterangkan dengan meniadakan berbagai hal yang tidak berhubungan dengan shalat. Bahkan khusyu' juga diartikan dengan menghadirkan segenap rasa dan jiwa kehadirat Allah swt. meskipun tidak termasuk syarat syah shalat, khusyu' dalam shalat adalah wajib walaupun hanya sekedar takbiratul ihram.
Dengan demikian berpikir segala macam keduniawiyan dalam shalat sangat dilarang. Andaikan terpikirkan oleh seorang hamba dalam shalatnya berbagai macam hal keakhirtan seperti surga dan neraka maka yang demikian itu adalah makruh. Begitu pula jika seseorang dalam shalatnya hanya disibukkan oleh masalah fiqih yang menggelayuti dalam pikirannya ketika shalat, hukumnya makruh. Karena berbagai macam kesibukan pikiran ini (neraka, surga, fiqih dan keduniawiyahan) menghalangi posisi hamba denganAllah swt.

Keempat: Tadabbur / Merenungkan Arti Bacaan
Mengangan-angan makna (tadabburi qira'tin wa dzikrin) bacaan shalat secara global sebagai cermin dari kekhusyu'an dalam shalat. 
Artinya, seorang yang shalat hendaknya mengerti makna inti dari apa yang dibaca dalam shalat. Terutama dalam dzikir, minimal seorang hamba mengerti bahwa bacaan tasbih dan tahmid itu bertujuan mengagungkan Allah swt. 
Hal ini menjadi penting karena menurut as-Syinwani dzikir itu dapat menarik pahala, jikalau mengerti makananya, kecuali bacaan al-Qur'an dan shalawat. Sekalipun tidak mengerti arti kedua bacaan itu (al-Qur'an dan Shalawat) tetap mendapatkan pahala.

Kelima: Arah Pandangan Ke Tempat Sujud
Selalu mengarahkan pandangan ke arah sujud (wa idamatu nadhari mahalli sujudihi) walaupun shalat di depan ka'bah, dan meskipun orang itu buta atau shalat dalam keadaan gelap gulita. Karena hal ini akan menghantarkan hamba pada keskhusyu'an. 
Begitu pula dalam shalat janazah, hendaknya tetap mengarahkan pandangan pada tempat sujud fan tidak menghadapkan pandangan kepada mayyit.

Keenam: Berdzikir Sesudah Sholat
Adalah berdzikir dan berdo'a setelah sholat secara lirih (zdikrun wa du'aun sirran 'aqibaha), dan diperbolehkan secara lantang jika dilakukan untuk mengajari orang lain baik secara berjamaa'ah maupun sendiri-sendiri. (Bacaan wirid & dzikir ba'da sholat fardlu akan diposting lain waktu).

Itulah keenam hal yang serigkali terlupa dan kerap diabaikan dalam shalat walaupun keenam ini sebenarnya merupakan kesunnahan di luar tehnik shalat. 
Demikian keterangan ini diambil dan disarikan dari Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi'in. Wallahu a'lam bis shawab, (ulil Hadrawy)

Sumber asli ada di : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,43989-lang,id-c,ubudiyah-t,Enam+Hal+Yang+Sering+Diabaikan+Dalam+Shalat-.phpx

Sabtu, 29 Agustus 2015

Menyinarkan Hati Dengan Melanggengkan Dzikir



Tuan Guru Ali al-Murshifi berkata: “Para guru tarekat sufi sudah tidak mampu lagi menemukan obat yang lebih cepat menyinarkan hati sang murid selain melanggengkan dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla. Maka orang yang selalu berdzikir kepada Allah ibarat orang yang memengkilapkan tembaga yang berkarat dengan pasir, sementara orang yang melakukan ibadah tapi tidak selalu berdzikir kepada Allah ibarat orang yang memengkilapkan tembaga dengan sabun. Orang ini sekalipun berusaha memengkilapkan tembaga yang berkarat dengan sabun, tapi ia butuh waktu yang cukup lama dan itu pun tidak bisa mengkilap seperti tembaga yang digosok dengan pasir atau debu.”

Rabu, 26 Agustus 2015

Keistimewaan Tasbih dan Sholat Tasbih



Jika manusia tak mau bertasbih, tunduk dan taat kepada Allah, maka hakikatnya seekor semut lebih mulia darinya. Karena semut dan segala sesuatu yang ada di alam raya ini senantiasa bertasbih kepada Allah, tanpa henti. Matahari, bulan, bintang, hewan, tumbuh-tumbuhan, burung, katak, pohon, guruh, batu, kerikil, gunung, benda hidup maupun benda mati di alam semesta ini selalu tunduk, bersujud dan bertasbih kepada Allah dengan memuji-Nya. Allah telah menegaskan, “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”(Al-Isra'[17]: 44).
Tasbih berasal dari kata سَبَحَ - sabaha, yang artinya ‘menjauh’. Ber-tasbih dalam pengertian syariat artinya ‘menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan dan kejelekan’.

Dengan begitu, ketika kita bertasbih, maka kita menunjukkan keluarbiasaan Allah dalam segala hal, tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Ada 7 surat yang dimulai dengan ucapan tasbih: Surat al-Isra’ (17:1), Surat al-Hadid (57:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat as-Shaf (61:1), Surat at-Taghabun (64:1), Surat al-A’la (8:1).

Dalam al-Quran, banyak perintah agar kita ber-tasbih kepada Allah swt dalam segala keadaan. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut :
Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang (Thoha/20: 130)
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu akan berdiri (at-Thur/52: 48)
Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (al-Mu’min/40: 55)

KEISTIMEWAAN TASBIH


1. KALIMAT YANG DIPILIH OLEH ALLAH SWT
Suatu kali Rasulullah ditanya apakah ucapan yang paling unggul? Rasulullah menjawab,
مَا اصْطَفَى اللهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
‘Yang dipilih Allah swt terhadap para malaikat-Nya dan hamba-Nya adalah ucapan: Subhanallahi wa bihamdihi’ (Riwayat Muslim)

2. MEMBERATKAN TIMBANGAN AMAL
Rasulullah bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
Ada dua kalimat yang keduanya ringan diucapkan di lidah namun memberatkan timbangan amal dan keduanya disukai oleh ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi wa bi hamdihi subhanallahil azhim’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

3. MENGHAPUS DOSA YANG BANYAK 

Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahi wa bi hamdihi 100X maka Allah dihapuskan kesalahan meskipun kesalahannya itu sebanyak buih lautan’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
4. PUNYA PERKEBUNAN KURMA DI SURGA

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِى الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahil azhimi wa bi hamdihi, maka ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga’ (Riwayat at-Tirmidzi)
5. TERHINDAR DARI KESEDIHAN DAN PENYAKIT-PENYAKIT BERAT

Suatu kali Qabishah al-Makhariq mendatangi Rasulullah dan berkata, 
Wahai Rasulullah, ajarkan aku beberapa kalimat (ucapan) yang dengannya Allah memberi manfaat kepadaku, karena sungguh umurku sudah tua dan aku merasa lemah untuk melakukan apapun’. Lalu Rasulullah berkata, ‘Adapun untuk duniamu, maka ketika engkau selesai shalat Shubuh, maka ucapkanlah tiga kali:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Jika engkau membacanya, maka engkau terhindar dari kesedihan, kusta (lepra), penyakit biasa, belang, lumpuh akibat pendarahan otak (stroke)…’ (Riwayat Ibnu as-Sunni dan Ahmad)
6. AMALAN YANG DISUKAI ALLAH SWT

سُبْحَانَ اللَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ 
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR
Amalan yang disukai Allah "Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar" Allah berfirman dalam al-Quran: ”Hai orang-orang yang beriman! berzikirlah (mengingat) kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (al-Ahzaab: 41-42).
Hadith yang membicarakan keutamaan zikir "Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar"
1. Rasulullah saw. bersabda, "Lazimkan membaca subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akhbar, kerana semua itu dapat menghapuskan dosa sebagaimana gugurnya daun dari pohon". (HR Ibnu Majah)
2. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah s.a.w. berkata : "Membaca Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar lebih aku sukai daripada seisi dunia." (Hadith Riwayat Muslim)
3. Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai” (HR. Muslim no. 2137).
4. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari." (HR. Muslim no. 2695). Al Munawi rahimahullah mengatakan, “Segala sesuatu yang dikatakan antara langit dan bumi, atau dikatakan lebih baik dari sesuatu yang terkena sinar matahari atau tenggelamnya, ini adalah ungkapan yang menggambarkan dunia dan seisinya.” Dari sini menunjukkan bahwa keempat kalimat tersebut lebih baik daripada dunia seisinya.
5. Dari Ummi Hani' binti Abu Thalib dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk." Beliau bersabda:
"Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma'il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali."
6. Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: "Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu." (HR. Ahmad 6/344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shilsilah Ash Shohihah no. 1316)
7. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)
8. Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata, Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda, "Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
9. Dari Abu Sa'id Al Khudri dan Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih empat perkataan: subhanallah (Maha suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan laa ilaaha illa allah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan Allahu akbar (Allah maha besar). Barangsiapa mengucapkan subhaanallah, maka Allah akan menulis dua puluh kebaikan baginya dan menggugurkan dua puluh dosa darinya, dan barangsiapa mengucapkan Allahu Akbar, maka Allah akan menulis seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan laa Ilaaha illallah, maka akan seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin dari relung hatinya maka Allah akan menulis tiga puluh kebaikan untuknya dan digugurkan tiga puluh dosa darinya." (HR. Ahmad 2/302. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya shahih).
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk istiqomah mengamalkan zikir “Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar” dalam kehidupan seharian kita. Insya allah.

7. SENJATA MENGHADAPI PERSOALAN BESAR
Diriwayatkan dari Abu Hurayrah, bahwa jika Rasulullah menghadapi persoalan penting, maka beliau mengangkat kepalanya ke langit sambil mengucapkan: Subhanallahil azhim, dan jika beliau bersungguh-sungguh dalam berdoa, maka beliau mengucapkan: Ya hayyu ya qoyyum (Riwayat at-Tirmidzi)
8. SENJATA MEGHADAPI KRISI PANGAN

Rasulullah bersabda,

طَعَامُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي زَمَنِ الدَّجَّالِ طَعَامُ الْمَلاَئِكَةِ: التَّسْبِيْحُ وَالتَّقْدِيْسُ، فَمَنْ كَانَ مَنْطِقُهُ يَوْمِئِذٍ التَّسْبِيْحَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُ الْجُوْعَ
‘Makanan orang beriman pada zaman munculnya Dajjal adalah makanan para malaikat, yaitu tasbih dan taqdis. Maka barangsiapa yang ucapannya pada saat itu adalah tasbih, maka Allah akan menghilangkan darinya kelaparan’ (Riwayat al-Hakim)

SHALAT TASBIH & KEISTIMEWAANNYA 

Melakukan shalat tasbih bukan perbuatan bid’ah. Shalat Tasbih termasuk kebiasaan orang-orang shalih. Abdullah bin Mubarok dan generasi sesudahnya selalu melakukannya.

Kata Syaikh Ali al-Khawwash, ‘Sebaiknya shalat tasbih dilakukan sebelum shalat hajat, karena shalat tasbih ini menghapus dosa-dosa, dengan demikian menjadi sebab terkabulnya hajat’.

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ إِبْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ لِعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: يَا أَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ، أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أَمْنَحُكَ؟ أَلاَ أَحْبُوْكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَحِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ، سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ، عَشْرَ حِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً، لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً - رواه أبو داود وأبن ماجه وإبن خزيمة والطبراني
Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, ‘Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau aku beri sesuatu? Maukah engkau aku anugerahkan sesuatu? Maukah engkau aku berikan hadiah? Yaitu sepuluh keutamaan, yang jika engkau melakukannya, Allah mengampuni dosamu: dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan. Sepuluh keutamaan itu engkau dapatkan dengan cara engkau lakukan shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca al-Fatihah dan satu surat (dari al-Qur’an). Jika engkau telah selesai membaca al-Fatihan dan surat pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, maka engka baca kalimat SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, lalu engkau ucapkan kalimat tadi sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau sujud, ketika sujud engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu (dan duduk istirahat sebentar), maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Maka jumlah kalimat itu 75 kali pada setiap satu rakaat. Engkau lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Jika engkau mampu melakukannya (shalat) itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak mampu melakukannya setiap hari, maka (lakukan) setiap minggu sekali! Jika engkau tidak mampu melakukannya setiap minggu, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) setiap tahun sekali! Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) sekali seumur hidupmu’. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, 1297; Ibnu Majah, 1387; Ibnu Khuzaimah, 1216; al-Hakim dalam al-Mustadrak, 1233; al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, 3/51-52, dan lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam, dari Abu Syu’aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sanad ini berderajat hasan) 
*Shalat tasbih bisa dilakukan siang hari, bisa juga malam hari. Jika dilakukan siang hari, maka langsung 4 rakaat dengan satu salam. Jika malam hari, maka dilakukan 2 rakaat 2 rakaat dengan 2 kali salam.

*bangaziem.wordpress.com & sumber lainnya